Zakat Ibadah Multidimensi

memberi

Oleh Gus Taqi

Memasuki penghujung Ramadlan, umat Islam disyariatkan untuk menunaikan zakat fitrah berupa makanan pokok kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahiq). Ibadah ini disyariatkan pada bulan Ramadlan, tahun ke-2 H, tepatnya dua hari menjelang Idul Fitri.

Perintah zakat secara umum didasarkan pada beberapa firman Allah, sunnah Nabi Saw, dan disepakati oleh kalangan Ulama. Di antara ayat Al-Quran yang secara tegas memerintahkan zakat adalah QS Al-Baqarah ayat 110: “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Adapun sunnah Nabi Saw tentang zakat sebagaimana dikutip dalam Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan beberapa kitab hadits lainnya yang menegaskan bahwa penunaian zakat sebagai di antara pondasi (rukun) Islam. (Lihat Kitab Al-Fiqh `alal Madzahib Al-Arba`ah, jilid 2, hal. 558)

Syekh Imam Asy-Syairazi mendefinisikan zakat secara bahasa berarti berkembang, banyak dan suci, karena hakikat harta yang ditunaikan zakatnya akan berkembang, banyak, dan dapat menyucikan diri dari kotoran dosa (Al-Muhadzdzab, hal. 195). Sedangkan secara istilah, Al-Mawardi seperti dikutip Yusuf Al-Qaradlawi menyebutkan, Zakat merupakan sebutan untuk pengambilan sesuatu yang khusus dari harta tertentu, berdasarkan sifat-sifat tertentu untuk disalurkan kepada golongan tertentu. (Fiqhuz Zakat, hal. 52).

Dalam praktiknya, zakat secara sederhana terbagi menjadi dua: zakat fitrah dan zakat harta (maal). Yang dimaksud dengan zakat fitrah adalah zakat yang ditunaikan atas diri seorang muslim yang mengalami waktu sebagian Ramadlan dan Syawwal serta sebagai bentuk zakat badan. (Kifayat Al-Akhyar, jilid 1, hal. 192).

Zakat fitrah yang ditunaikan pada Ramadlan, menurut Waki` sebagaimana dikutip Syekh Zainuddin Al-Malibari, ibarat sujud sahwi terhadap shalat, karena zakat dapat menambal kekurangan puasa sebagaimana sujud sahwi menambal kekurangan shalat. Teknis pembayaran zakat fitrah menggunakan makanan pokok sebanyak 1 sha` atau 4 mud, setara dengan 3,5 liter atau sekitar 2,5 kg beras. (Fathul Mu`in, jilid 2, hal. 22).

Adapun zakat harta merupakan pembayaran zakat karena memiliki harta dengan nilai tertentu dan jangka waktu dalam memilikinya tertentu. Contoh dari zakat harta adalah zakat perniagaan, zakat pertanian, zakat emas serta perak, zakat barang tambang, zakat penghasilan profesi, dan lainnya.

Ibadah zakat memiliki banyak dimensi, baik secara vertikal kepada Allah sebagai bentuk ketaatan atas segala perintahnya, juga secara horisontal kepada sesama manusia sebagai bentuk kepeduliaan dan solidaritas kemanusiaan.

Dalam dimensi ketuhanan, praktik zakat merupakan bentuk pelaksanaan kewajiban seorang hamba atas segala perintah Allah. Hal yang wajib itu bila dikerjakan dapat mendatangkan pahala, sedangkan bila ditinggalkan akan mendapat dosa. Zakat yang dikeluarkan karena ketaatan pada Allah akan mensucikan jiwa dari segala kotoran dan dosa. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS At-Taubah ayat 103).

Sementara itu, zakat juga menyentuh dimensi sosial. Dalam beberapa kesempatan Al-Quran menyandingkan kata zakat setelah kata shalat. Ini mengindikasikan bahwa selain ibadah ritual-individual seperti shalat, seorang hamba pun tidak lepas dari ibadah yang bersifat sosial melalui zakat yang diberikan kepada sesama.

Al-Quran dengan tegas menyebutkan delapan kelompok yang berhak menerima zakat. “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS At-Taubah ayat 60).

Kedelapan kelompok penerima tersebut amatlah tepat untuk mendapatkan harta dari hasil zakat. Sebagai contoh, kelompok fakir dan miskin merupakan dua kelompok yang menjadi konsentrasi utama dalam mendapatkan harta. Syekh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan, orang fakir adalah orang yang tidak mempunyai harta dan pekerjaan yang layak. Walaupun orang ini memiliki pekerjaan, namun penghasilannya tersebut jauh dari kata cukup. Sedangkan miskin adalah orang yang memiliki harta atau pekerjaan yang telah menutup kebutuhannya, tetapi belum mencukupinya (Fathul Mu`in, jilid 2, hal. 35).

Melalui ibadah zakat, harta seseorang tidak dimonopoli sendiri dan tidak berputar pada kelompok tertentu. Dalam praktik pembagian harta kepada kelompok kurang sejahtera ini, Allah berfirman, “Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS Al-Hasyr ayat 7).

Islam mengakui adanya perbedaan pemilikan harta berdasarkan perbedaan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki manusia. Namun Islam tidak menghendaki adanya jurang perbedaan yang semakin lebar, sebaliknya Islam mengatur agar perbedaan yang ada mengantarkan masyarakat dalam kehidupan yang harmonis; yang kaya membantu yang miskin dari segi harta, yang miskin membantu yang kaya dari segi lainnya seperti melalui tenaga atau mendoakannya.

Kekayaan yang menetap pada satu komunitas dan individu tertentu akan mengundang perilaku dengki atau kecemburuan sosial dari kaum tidak mampu secara ekonomi. Kecemburuan tersebut akan menghancurkan keseimbangan pribadi, jasamani dan rohaniah seseorang. Islam tidak memerangi penyakit dengki (hasud) ini hanya dengan nasihat dan petunjuk semata, akan tetapi mencoba mencabut akarnya dari masyarakat melalui mekanisme zakat, dan menggantikannya dengan persaudaraan yang saling memperhatikan satu sama lain.

Menurut data terakhir Badan Pusat Statistik 2010, jumlah kelompok miskin di negeri ini mencapai 31,02 juta orang (13,33 persen). Realita ini sebenarnya bisa ditekan melalui pendistribusian zakat kepada para mustahik secara adil, terutama kaum fakir dan miskin. Selain untuk kebutuhan makanan pokok, harta hasil zakat yang diperoleh untuk kelompok ini pun bisa dikelola dengan baik dalam bentuk modal usaha sehingga lebih produktif dan membangkitkan perekonomian kaum yang terpinggirkan tersebut. Harapan ini tentunya tidak lepas dari kesadaran kedua belah pihak; yakni kesadaran para orang kaya untuk menunaikan zakat, dan kesadaran para mustahik dalam pemakaian harta hasil zakat. Dengan demikian, ibadah zakat dapat menyentuh berbagai dimensi serta pelakunya dapat menjadi hamba yang shaleh secara individual dan shaleh secara sosial. Wallahu a`lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>