Tag Archives: ibnu katsir

2016-10-29-13-43-05-328052366

Imam Ibnu Katsir

Dalam gustaqi.com kami rutin menyajikan tafsir karya Al Imam Ibnu Katsir degan judul Tafsir al Qur’an al ‘Azhiim. Kitab Tafsir yang lazim dikaji di berbagai pesantren ini sangat dalam dan kaya akan pembahasannya. Lalu siapakah penyusun dari kitab tafsir tersebut?

Ibnu Katsir adalah seorang yang ahli tentang ilmu-ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, sejarah umat-umat terdahulu dan yang akan datang. Allah memberinya karunia berupa pandangan yang tajam dan mendalam tentang sunnatullah yang terjadi berkaitan dengan kemaslahatan, kerusakan, kemajuan, kemunduran serta kehancuran umat ini. Kitabnya, Tafsir Ibnu Katsir, merupakan kitab paling penting yang ditulis dalam masalah tafsir al-Qur’anul ‘Adziim, paling agung, paling banyak diterima dan tersebar di tengah umat ini.

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS An Naas

 

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

Ketiga ayat yang pertama merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah Swt. yaitu sifat Rububiyah (Tuhan), sifat Al-Mulk (Raja), dan sifat Uluhiyyah (Yang disembah). Dia adalah Tuhan segala sesuatu, Yang memilikinya dan Yang disembah oleh semuanya. Maka segala sesuatu adalah makhluk yang diciptakan-Nya dan milik-Nya serta menjadi hamba-Nya.

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 5)

Al-Fatihah, ayat 5

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) }

Hanya EngkaulahYangKami sembah dan  hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Qira’ah Sab’ah dan jumhur ulama membaca tasydid huruf ya yang ada padaiyyaka. Sedangkan Amr ibnu Fayid membacanya dengan takhfif, yakni tanpa tasydid disertai dengan kasrah, tetapi qiraah ini dinilai syadz lagi tidak dipakai. karena iya artinya “cahaya matahari”. Sebagian ulama membacanya ayyaka, sebagian yang lainnya lagi membaca hayyaka dengan memakai ha sebagai ganti hamzah, sebagaimana yang terdapat dalam ucapan seorang penyair:

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 4)

Al-Fatihah, ayat 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّين

Yang Menguasai hari pembalasan.

Sebagian ulama qiraah membacanya مَلِك, sedangkan sebagian yang lain membacanya مَالِكِ; kedua-duanya sahih lagi mutawatir di kalangan As-Sab’ah.

Lafaz maliki dengan huruf lam di-kasrah-kan, ada yang membacanya malki danmaliki. Sedangkan menurut bacaan Nafi’, harakat kasrah huruf kaf dibaca isyba’ hingga menjadi malaki yaumid din (مَلَكِي يَوْمِ الدِّينِ).

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 3)

Al-Fatihah, ayat 3

الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Firman Allah Swt., “ar-rahmanir rahim,” keterangannya dikemukakan dalam Bab “Basmalah”; itu sudah cukup dan tidak perlu diulangi lagi.

Al-Qurtubi mengatakan, sesungguhnya Allah Swt. menyifati diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim sesudah firman-nya, “rabbil ‘alamina, ” tiada lain agar makna tarhib yang dikandung rabbul ‘alamina dibarengi dengan makna targib yang terkandung pada ar-rahmanir rahim, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 2)

Al-Fatihah, ayat 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Menurut Qira’ah Sab’ah,  huruf dal dalam firman-Nya,   “alhamdu lillahi,” dibaca dammah, terdiri atas mubtada dan khabar.

Diriwayatkan dari Sufyan ibnu Uyaynah dan Rubah ibnul Ajjaj, keduanya membacanya menjadi alhamda lillahi (الْحَمْدَ لِلَّهِ) dengan huruf dal yang di-fathah-kan karena menyimpan fi’l.

Ibnu Abu Ablah membacanya alhamdulillah dengan huruf dal dan lam yang di-dammah-kan kedua-duanya karena yang kedua diikutkan kepada huruf pertama dalam harakat. Ia mempunyai syawahid (bukti-bukti) yang menguatkan pendapatnya ini, tetapi dinilai syaz (menyendiri).