Riwayat Singkat Syaikh Zainuddin Al Malibari

Fathul Muin

Bagi kalangan santri pesantren tradisional, tidak asing dengan kitab Fathul Mu’in. Kitab yang membahas seputar fikih bermadzhab Syafi’i tersebut seperti menjadi kitab pegangan wajib untuk dikaji para santri. Dalam kesempatan ini, saya akan coba menyajikan riwayat singkat penyusun Fathul Mu’in, sebelum nanti saya menyajikan isi dari kitab klasik monumental tersebut.

Beliau adalah Al ‘Alim Al ‘Allamah Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz bin Zainuddin bn ‘Ali Al Malibari Al Fannani Asy Syafi’i. Beliau dilahirkan di Malabar, India Selatan. Namun sayangnya tidak ada keterangan tentang kapan waktu beliau dilahirkan. Bahkan wafatnya pun muncul berbagai pendapat.

Penyusun Fathul Mu’in ini lahir dan besar di lingkungan keluarga ulama. Ayahnya, Syaikh Abdul Aziz, adalah seorang ulama kenamaan yang juga memiliki karya yang dikenal di dunia Islam. Karya­nya antara lain kitab Irsyadul Alba’ dan Maslakul Adzkiya’, keduanya syarah atas kitab Hidayatul Adzkiya’, yang ditulis oleh ayahandanya sendiri, Syaikh Zainuddin bin Ali, yang dikenal dengan julukan “Zainuddin Al Awwal”.

Syaikh Zainudin bin Ali atau Zainuddin Al-Awwal sendiri adalah juga ulama besar yang karya-karyanya menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia. Karyanya yang paling termasyhur antara lain kitab Hidayatul Adzkiya’, yang disyarah oleh banyak ulama sete­lah­nya, di antaranya oleh Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha dalam kitabnya yang berjudul Kifaytul Atqiya’ wa Min­haj al-Ashfiya’ Syarh ‘ala Hidayah al-Adz­kiya’.

Syaikh Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz Al Malibari atau yang dikenal dengan “Zainuddin Ats Tsani” ini merupakan keturunan bangsa Arab. Beliau dikenal pula dengan julukan “Makhdum Thangal”. Ju­lukan ini dikaitkan dengan daerah tempat dirinya tinggal. Ada juga yang menyebutnya dengan nama “Zainuddin Makh­dum”, atau “Zainuddin Thangal”. Julukan ini men­­­cerminkan keutamaan dan peng­hor­mat­an masyarakat setempat kepada dirinya.

Sebagai ulama yang memiliki keluhuran ilmu, Syaikh Zainuddin Al-Malibari menyajikan pemahaman dan pemikirannya tentang agama ke dalam berbagai kitab. Mulai dari bidang aqidah, fiqih, tasawwuf, sejarah, hingga sastra.

Di antara karya-karya beliau adalah Al Isti’dad lil Maut Wasu’al Qubur (Aqidah), Qurratul ‘Ain bimuhimmatid diin (fiqih; kitab matan Fathul Mu’in), Fathul Mu‘in fi Syarh Qurrah al-‘Ayn (fiqih; dikomentari oleh Syaikh Sayyid Muhammad Syatho’ Ad Dimyati –W 1310 H— dengan nama kitab Hasyiyah I’anatuth Thalibin), Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyaad (masalah fiqih disertai nasehat & hikayat), Tuhfatul Muj­tahidin fi Ba‘adh Akhbar Al Burtu­ghalin (sejarah),

Sepanjang hayatnya, Syaikh Zainuddin Al Malibari menyibukkan diri dengan kegiatan keilmuan keislaman sehingga menghasilkan karya-karya yang bermanfaat untuk umat Islam sampai dengan saat ini. Tentang masa wafatnya beliau, para ulama mengalami perbedaan pendapat. KH Sirajuddin ‘Abbas dalam Tobaqotussafi’iyyah mencatat wafatnya tahun 972 H. Pentahqiq kitab Nihayatuzzain terbitan Dar Kutub Al Islamiyyah, Habib ‘Alwi Abubakar Muhammad As Saqqof menulis tahun wafatnya 987 H / 1579 M. Karena berbedanya ahli sejarah menentukan masa wafatnya murid Syaikh Ibnu Hajar Al Haitami tersebut, yang jelas sebagaimana yang telah ditulis oleh Syaikh Nuruddin Marbu Al Banjari Al Makki dalam kitabnya Ma’lumatu Tuhimmuka, tahun wafatnya adalah pada awal abad 10 H. Beliau dimakamkan di pinggir kota Fannon, India, di samping Masjid Agung Fannnon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>