Ridla Orangtua jembatan menuju Ridla Allah

Rid

Alkisah, seorang ibu melahirkan bayi dengan cacat pada telinga kanannya. Begitu berat perasaan sang ibu bila melihat rupa buah hatinya itu. Saat menginjak usia 7 tahun, sang anak selalu mengeluhkan perlakuan dan cacian teman-teman sekitarnya tentang keadaan cacat yang diderita. Karena rasa kasih dan sayang ibu yang amat besar, menjelang remaja, mengajaknya ke rumah sakit untuk operasi telinga.

Dokter meminta kepada kedua orangtua anak itu untuk mencari pendonor telinga. Sekitar 1 bulan mencari pendonor budiman, akhirnya ada juga yang berkenan mendonorkan sebelah telinganya. Namun ayahnya tidak memberitahukan siapa pendonor itu. Operasi berjalan sukses dan fisik sang anak pun berubah dengan rupa yang lebih baik. Dengan modal fisik itu ia mendapatkan banyak keberuntungan, terutama dalam karir.

Setelah menjadi orang sukses, ia minta kepada ayahnya untuk ditunjukkan siapa pendonor telinga saat ia masih remaja. Tetap saja ayahnya tak mau buka mulut. Hingga akhirnya sang ibu meninggal dunia, anak itu mengeusap rambut panjang berurai milik ibunda. Saat disingkap, terlihat telinga kanan ibu tidak ada. Alangkah kagetnya ia melihat pemandangan yang tak aneh itu.

Sang ayah kemudian bercerita bahwa yang mendonorkan telinga itu adalah ibundanya sendiri. “Sengaja ia memanjangkan rambut agar menutupi cacat telinga itu,” kata sang ayah.

Subhanallah. Amat besarnya kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya hingga ia rela mengorbankan salah satu anggota tubuhnya untuk didonorkan kepada buah hatinya tersayang. Bagi sang ibu, lebih baik mendonorkan anggota tubuhnya daripada harus mendengar tangisan keluhan sang anak. Ini sedikit bukti bahwa kasih sayang ibu, meski sebagian terlihat sering tidak mengenakkan untuk anaknya, lebih besar tertuang untuk kebahagiaan anaknya.

 

Mendidik untuk berbakti

Di antara pendidikan penting yang diajarkan Luqman Al-Hakim kepada putranya adalah tentang arti pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman : 14)

Beban yang ditanggung ibu saat mengandung sekitar sembilan bulan, ditambah dengan menyusui selama dua tahun, bahkan mengurusnya sepanjang usia anak-anak. Bahkan saat menjelang berkeluarga, atau sudah berkeluarga pun, terkadang seorang anak masih membutuhkan kasih dan sayang seorang ibu untuk menjadi tempat bertanya. Karena itu, dalam ayat tersebut di atas sungguh besarnya peran ibu bagi anaknya dan semestinya seorang anak manusia untuk berbakti kepada orangtuanya.

Dalam satu hadits yang di riwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya dan yang lainnya dari Abu Hurairah RA, berkata bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw. “Siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbakti kepadanya?” tanya orang itu. Rasul menjawab, “Ibu kamu, kemudian ibu kamu, kemudian ibu kamu, kemudian ayah kamu.”

 

Cara Berbakti

Beberapa redaksi ayat-ayat Alquran sering menempatkan perintah berbakti kepada orangtua setelah beribadah kepada Allah. Dalam QS Al-Isra ayat 23 disebutkan bahwa Allah telah memerintahkan supaya manusia tidak menyembah selain kepada Allah dan selanjutnya manusia harus berbakti kepada orangtua. Penempatan ini menunjukkan berbakti kepada orangtua amat penting, karena tanpa perantara mereka maka tidak akan lahir seorang anak manusia seperti kita. Bahkan mereka pula yang mendidik dan mengenalkan Islam kepada kita.

Untaian ayat 23-24 dalam QS Al-Isra mengajarkan manusia cara berbakti kepada orang tua. Pertama, hendaklah manusia berbuat baik kepada keduanya dengan sebaik-baik perilaku. Bahkan jika di antara mereka atau kedua-duanya lanjut usia, maka tidak sepatutnya seorang anak membuatnya jengkel walaupun dengan ucapan “ah”. Sebagai gantinya, kita sebaiknya berkata dengan perkataan yang mulia.

Kedua, rendahkanlah diri kita terhadap kedua orangtua dengan penuh kasih sayang. Bahkan seringlah berdoa untuk mereka dengan  doa, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS Al-Isra ayat 24).

 

Bakti ke orangtua yang meninggal

Adapun bila orangtua telah tiada, seorang anak masih bisa berbakti kepada mereka. Seorang anak yang baik bila telah ditinggalkan orangtuanya amat baik bila menyambung ikatan persaudaraan dengan saudara dan sahabat orangtua. Dengan demikian sang anak tidak merasa sendiri, karena ia masih memiliki saudara dan sahabat yang merupakan orang-orang terdekat orangtuanya dulu. Abdullah bin Umar RA pernah mendengar bahwa Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya termasuk kebaikan seseorang adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal” (Hadits Riwayat Muslim No. 12, 13, 2552)

Anak adalah investasi masa depan bagi orangtuanya. Dengan bekal pendidikan agama yang diwariskan kepada anaknya, orangtua berharap agar ia ketika tidak ada nanti tetap mendapatkan bagian dari pahala kebaikan anak shaleh. Nabi Saw bersabda, “Jika seseorang telah meninggal, maka putuslah semua amalannya kecuali tiga hal: shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (HR Bukhori)

Sedekah yang diniatkan oleh anak untuk orangtuanya akan berguna. Satu waktu seseorang bertanya kepada Rasul. “Wahai Rasulullah! Ibuku telah meninggal, jadi apakah yang engkau wasiatkan kepadaku? Apakah sedekah untuknya itu bermanfaat baginya?’ Beliau menjawab : ‘Ya’.” (HR Bukhari)

Bagi seorang anak yang ingin berbakti kepada orangtuanya, masih terbuka pintu kesempatan yang lebar. Yang mampu bersedekah, akan lebih baik bila bersedekah untuk orangtua disertai doa yang munajatkan oleh anak dan keluarganya. Bahkan melalui sedekah yang didonasikan kepada kaum mustadl`afin (orang-orang lemah) akan mengundang diijabahnya doa untuk orangtua agar diterangi dalam kuburnya, diampuni segala dosanya, dimudahkan dalam hisabnya, dan ditempatkan di tempat terbaik.

Perilaku bakti orangtua tersebut tidak terlepas dari upaya kita untuk menggapai ridla Allah. Nabi Saw bersabda, “Ridla Allah terletak pada ridla orangtua, murka Allah terletak pada murka orangtua”  (HR At-Tirmidzi).

Wallahu a`lam bish Shawab

 

*) Gus Taqi adalah penggiat Rumah Dakwah, tinggal di Bogor

One Response to Ridla Orangtua jembatan menuju Ridla Allah

  1. Dunia tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup maka dengan izin Allah dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.

Leave a Reply to Virtual Private Server Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>