Refleksi Akhir Tahun, GP Ansor Kota Bogor Gelar Tabligh AKbar

15785413_10209892350858731_2022786400_o

Jika di sebagian daerah mengisi pergantian tahun dengan aneka kegiatan hiburan, maka GP Ansor Kota Bogor justru mengajak umat Islam untuk merefleksikan diri melalui Tabligh Akbar, Jum’at (30/12/2016) pagi, di Masjid Raya Bogor. Acara yang dihadiri lebih dari 1.000 umat Islam se wilayah Bogor itu diawali dengan pembacaan shalawat dan lantunan dzikir serta do’a bersama untuk keberkahan bangsa.

Sebelum puncak acara berupa penyampaian ceramah agama, terlebih dulu para tokoh Kota Bogor menyampaikan sambutan yang berisi refleksi akhir tahun berkaitan dengan dinamika keummatan dan kebangsaan di tanah air. Ketua PC GP Ansor Kota Bogor Rachmat Imron Hidayat dalam sambutannya mengajak umat Islam untuk senantiasa memperbaiki diri, sedangkan sebagai warga negara yang baik maka hendaknya turut serta menjaga stabilitas negara dan kedamaian bangsa. Pihaknya juga mengingatkan bahwa kita berada di negara hukum, karena itu semestinya setiap warga negara untuk menghormati segala ketetapan hukum dan mempercayakan kepada para penegak hukum. “Kalau kita merasa tinggal di NKRI, maka patuhi hukum dan peraturan yang berlaku di negeri ini,” tegasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Andi Surya Wijaya mendukung setiap kegiatan keislaman yang berbasis pada pengajaran kedamaian untuk alam semesta. Adapun Danrem 061/SK yang diwakili Kasi Teritorial Letkol Inf Daseng mengingatkan tentang perbedaan jangan dijadikan perselisihan, justru keberagaman harus menjadi kekuatan persatuan menuju negara yang kokoh, baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. “Meskipun berbeda, tetapi tetap satu tujuan,” ungkapnya.

Walikota Bogor yang diwakili salah satu asisten daerah mengpresiasi Tabligh Akbar yang digelar dalam rangka refleksi apa yang sudah dilaksanakan selama setahun ke belakang dan harapan lebih baik di tahun selanjutnya untu kemakmuran serta keberkahan bangsa dan tanah air Indonesia.

Tabligh Akbar yang menghadirkan dua penceramah dari Bogor ini membahas tentang pentingnya mengevaluasi diri.  Kesempatan pertama ceramah disampaikan oleh Ustadz Yudin Taqyudin. Dalam ceramahnya Ustadz yang biasa disapa Gus Taqi ini menyampaikan pesan untuk memanfaatkan setiap waktu yang dianugerahkan Allah. “Dalam beberapa kesempatan Al Qur’an terdapat kalimat sumpah Allah menggunakan objek waktu, seperti Wal ‘Ashri, Wal Fajri, Wa Layalin, dan lain sebagainya. Ini menunjukkan bahwa momentum waktu dan pergantiannya sangat penting diperhatikan, terutama dalam kesempatan pergantian tahun untuk merefleksikan diri,” jelasnya.

Gus Taqi juga mengajak semua elemen untuk mengevaluasi aneka permasalahan bangsa, tapi tidak lupa bahwa negeri ini juga memiliki banyak prestasi yang harus disyukuri.  Termasuk prestasi itu adalah proses penegakan hukum yang sedang berjalan pada kasus penistaan agama di Jakarta. Hadirin diminta untuk mengawal proses tersebut dengan do’a dan percaya sepenuhnya kepada para penegak hukum bahwa mereka akan berupaya objektif hingga hasilnya sesuai yang diharapkan umat Islam. Karena itu, sebaiknya umat kembali kepada aktifitas masing-masing dan menggunakan energi untuk kebutuhan lain sebab pekerjaan umat Islam cukup banyak. Sebagai warga negara, Gus Taqi mengimbau hadirin untuk sam’atan wa tha’atan, yakni mendengar dan menaati terhadap peraturan maupun kebijakan yang dibuat oleh pemerintah selama baik sejalan sesuai agama.

Tak kalah pentingnya, dalam nasehat itu, ustadz yang merupakan Wakil Ketua GP Ansor Kota Bogor menyelipkan arahan kepada para orangtua untuk memperhatikan aktifitas penggunaan alat telekomunikasi sehingga bijak dalam menerima informasi yang masuk. Ia mewanti-wanti agar para pemiliki sosial media terutama dari kalangan anak muda tidak menelan mentah-mentah informasi yang belum jelas kebenarannya, apalagi kalau itu fitnah dan kebohongan. “Bahkan dewasa ini banyak share materi yang berisi ujaran kebencian, maka semestinya umat Islam harus cerdas dan bijak dalam menggunakan alat komunikasi,” imbuhnya.

Adapun kesempatan ceramah kedua disampaikan oleh KH Abdullah Nawawi MDz, menyampaikan alasan kenapa diangkatnya keberkahan. Salah satunya adalah karena pribadi-pribadinya dipenuhi dengan kebencian. Mulai dari suami/istri benci kepada pasangan atau keluarganya, hingga warga negara benci terhadap sesama. “Kebencian yang ditebar itulah membuat hidup tidak nyaman, tidak damai, jauh dari kemakmuran, dan hingga akhirnya hilang keberkahannya,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>