Ridla Orangtua Jembatan Menuru Ridla Allah

Ridla Orangtua Jembatan Menuru Ridla Allah

Di antara pendidikan penting yang diajarkan Luqman Al-Hakim kepada putranya adalah tentang arti pentingnya berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu. More »

Khauf dan Roja

Khauf dan Roja

Khauf (rasa takut) dan roja` (rasa harap) adalah dua ibadah yang sangat agung. Bila keduanya menyatu dalam diri seorang mukmin, maka akan seimbanglah seluruh aktivitas kehidupannya. More »

Hikmah Shalat: Membentuk Pribadi Shaleh Spiritual, Emosional, dan Sosial

Hikmah Shalat: Membentuk Pribadi Shaleh Spiritual, Emosional, dan Sosial

Secara global, shalat yang didirikan dengan baik, benar, dan memenuhi ketentuan syari’at memiliki 3 hikmah, yaitu: (1) shaleh secara spiritual, (2) shaleh secara emosional, dan (3) shaleh secara sosial. More »

Memahami Bid\'ah

Memahami Bid\'ah

“Bid’ah dalam agama adalah memperbarui sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad Saw. Bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah (baik) dan qabihah (jelek).” (kitab Tahdzib al Asma wa al Lughat, I/994) More »

Memantapkan Tujuan Hidup

Memantapkan Tujuan Hidup

Dalam sebuah perjalanan dibutuhkan tujuan yang jelas. Begitupun dengan tujuan hidup manusia. Ia harus mengenali siapa dirinya, berasal dari mana, dan hendak ke mana. More »

 
2016-10-29-13-43-05-328052366

Imam Ibnu Katsir

Dalam gustaqi.com kami rutin menyajikan tafsir karya Al Imam Ibnu Katsir degan judul Tafsir al Qur’an al ‘Azhiim. Kitab Tafsir yang lazim dikaji di berbagai pesantren ini sangat dalam dan kaya akan pembahasannya. Lalu siapakah penyusun dari kitab tafsir tersebut?

Ibnu Katsir adalah seorang yang ahli tentang ilmu-ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, sejarah umat-umat terdahulu dan yang akan datang. Allah memberinya karunia berupa pandangan yang tajam dan mendalam tentang sunnatullah yang terjadi berkaitan dengan kemaslahatan, kerusakan, kemajuan, kemunduran serta kehancuran umat ini. Kitabnya, Tafsir Ibnu Katsir, merupakan kitab paling penting yang ditulis dalam masalah tafsir al-Qur’anul ‘Adziim, paling agung, paling banyak diterima dan tersebar di tengah umat ini.

mazhab-qu

Biografi Imam Asy Syafi’i

Imam Syafii terkenal dengan nama as-Syafi`i. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi`i  bin Saib bin `Abid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Muthalib bin Abd Manaf yang juga kakek Rasulullah.

Ibunya berasal dari Azad Yaman bukan dari Quraisy. Nama lengkapnya Fatimah binti Abdullah Al-Azdiyah.  Ia memiliki keutamaan dalam membentuk Imam al-Syafi`i. Sedangkan ayahnya berdarah Quraisy. Ayahnya wafat saat Imam As-Syafi`i berada di dalam kandungan ibunya saat berusia 2 tahun. Dengan demikian jelaslah bahwa ia adalah keturunan bangsa Quraisy yang silsilahnya bertemu dengan Nabi Muhammad saw pada Abdul Manaf.

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS An Naas

 

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.

Ketiga ayat yang pertama merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah Swt. yaitu sifat Rububiyah (Tuhan), sifat Al-Mulk (Raja), dan sifat Uluhiyyah (Yang disembah). Dia adalah Tuhan segala sesuatu, Yang memilikinya dan Yang disembah oleh semuanya. Maka segala sesuatu adalah makhluk yang diciptakan-Nya dan milik-Nya serta menjadi hamba-Nya.

al-quran-sebagai-syafaat

Keutamaan Membaca dan Mengamalkan Al Qur’an

Sebagian orang malas membaca Al Quran padahal di dalam terdapat petunjuk untuk hidup di dunia.

Sebagian orang merasa tidak punya waktu untuk membaca Al Quran padahal di dalamnya terdapat pahala yang besar.

Sebagian orang merasa tidak sanggup belajar Al Quran karena sulit katanya, padahal membacanya sangat mudah dan sangat mendatangkan kebaikan. Mari perhatikan hal-hal berikut:

Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 7)

Al-Fatihah, ayat 7

{صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (7) }

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.

Dalam hadis yang lalu disebutkan apabila seseorang hamba mengucapkan.”Tunjukilah kami ke jalan yang lurus ….” sampai akhir surat. maka Allah Swt. berfirman: Ini untuk Hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. 

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 6)

Al-Fatihah, ayat 6

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) }

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Bacaan yang dilakukan oleh jumhur ulama ialah ash-shirat dengan memakaishad. Tetapi ada pula yang membacanya sirat dengan memakai sin, ada pula yang membacanya zirat dengan memakai za, menurut Al-Farra berasal dari dialek Bani Uzrah dan Bani Kalb.

Setelah pujian dipanjatkan terlebih dahulu kepada Allah Swt, sesuailah bila diiringi dengan permohonan, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis di atas, yaitu:

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 5)

Al-Fatihah, ayat 5

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) }

Hanya EngkaulahYangKami sembah dan  hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Qira’ah Sab’ah dan jumhur ulama membaca tasydid huruf ya yang ada padaiyyaka. Sedangkan Amr ibnu Fayid membacanya dengan takhfif, yakni tanpa tasydid disertai dengan kasrah, tetapi qiraah ini dinilai syadz lagi tidak dipakai. karena iya artinya “cahaya matahari”. Sebagian ulama membacanya ayyaka, sebagian yang lainnya lagi membaca hayyaka dengan memakai ha sebagai ganti hamzah, sebagaimana yang terdapat dalam ucapan seorang penyair:

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 4)

Al-Fatihah, ayat 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّين

Yang Menguasai hari pembalasan.

Sebagian ulama qiraah membacanya مَلِك, sedangkan sebagian yang lain membacanya مَالِكِ; kedua-duanya sahih lagi mutawatir di kalangan As-Sab’ah.

Lafaz maliki dengan huruf lam di-kasrah-kan, ada yang membacanya malki danmaliki. Sedangkan menurut bacaan Nafi’, harakat kasrah huruf kaf dibaca isyba’ hingga menjadi malaki yaumid din (مَلَكِي يَوْمِ الدِّينِ).

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 3)

Al-Fatihah, ayat 3

الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Firman Allah Swt., “ar-rahmanir rahim,” keterangannya dikemukakan dalam Bab “Basmalah”; itu sudah cukup dan tidak perlu diulangi lagi.

Al-Qurtubi mengatakan, sesungguhnya Allah Swt. menyifati diri-Nya dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim sesudah firman-nya, “rabbil ‘alamina, ” tiada lain agar makna tarhib yang dikandung rabbul ‘alamina dibarengi dengan makna targib yang terkandung pada ar-rahmanir rahim, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

2016-10-29-13-43-05-328052366

Tafsir Ibnu Katsir: QS Al Fatihah (ayat 2)

Al-Fatihah, ayat 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Menurut Qira’ah Sab’ah,  huruf dal dalam firman-Nya,   “alhamdu lillahi,” dibaca dammah, terdiri atas mubtada dan khabar.

Diriwayatkan dari Sufyan ibnu Uyaynah dan Rubah ibnul Ajjaj, keduanya membacanya menjadi alhamda lillahi (الْحَمْدَ لِلَّهِ) dengan huruf dal yang di-fathah-kan karena menyimpan fi’l.

Ibnu Abu Ablah membacanya alhamdulillah dengan huruf dal dan lam yang di-dammah-kan kedua-duanya karena yang kedua diikutkan kepada huruf pertama dalam harakat. Ia mempunyai syawahid (bukti-bukti) yang menguatkan pendapatnya ini, tetapi dinilai syaz (menyendiri).