Mengoptimal Efek Shalat

Angkat tangan

Oleh: Gus Taqi

(Dipublikasikan pada bulletin Qalam Dakwah Edisi XXIII/15 Juni 2012)

Manusia membutuhkan konsumsi rohani berupa ibadah. Ini sebabnya saat Allah memerintahkan ibadah kepada manusia, Al-Quran dalam surat Al-Baqarah ayat 21 menggunakan redaksi An-Naas untuk menyebut istilah manusia sebagai makhluk rohani.

Ibadah yang paling pokok adalah shalat, bahkan amal yang kali pertama dihisab adalah shalat. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, bahwa Nabi Saw bersabda: “Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. Bila shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Bila shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.”

Shalat memiliki tujuan dan hikmah yang agung, baik bagi kebutuhan jasmani maupun rohani. Secara jasmani, manusia dikaruniai akal yang sempurna, namun terkadang tidak berfungsi secara normal atau hilang kendali saat membuat keputusan. Shalat akan membantu memancarkan energi positif,  baik untuk kondisi fisik maupun psikis orang yang melaksanaknnya.

Setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara normal ke dalam urat saraf di otak terutama ketika kita bersujud mengikut kadar shalat lima waktu yang diwajibkan oleh Islam. Allah Ta`ala berfirman, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’” (QS Al-Baqarah ayat 43)

Implikasi shalat bukan sekedar pada aspek ta’abbudiyah (hubungan dengan Allah) saja, tetapi shalat juga memiliki gejala-gejala sosial yang positif di dalamnya. Jika ditelaah dari redaksi ayat tersebut, setelah kata Wa aqii-mush shalat (dan dirikanlah shalat), dilanjutkan dengan kalimat Wa atuzzakah (tunaikan zakat) dan diakhiri dengan kalimat Warka’u ma’arraki’iin (dan ruku`-lah beserta orang-orang yang rukuk). Pada untaian kalimat dalam ayat itu, Allah mensejajarkan kata shalat dengan zakat, yang tentunya sebagai efek dari orang yang sadar akan shalat, maka secara otomatis ia juga mestinya sadar akan pentingnya zakat sebagai solidaritas sosial.

Ungkapan kalimat Warka’u m’arraki’in yang berarti hendaklah rukuk beserta orang-orang yang ruku, ini mengajarkan kebersamaan dalam kehidupan sosial. Nabi Saw bersabda, “Hendaklah kalian untuk selalu bersama dan berhati-hatilah kalian dari perpecahan” (HR At-Tirmidzi dalam Sunan-nya 4/465). Selain itu, pada dasarnya, ruku` memiliki arti tunduk secara maksimal, yaitu badan, lisan, hati serta jiwa untuk berlutut dan memuja kepada-Nya agar semua anggota dapat mensyukuri nikmat yang ada.

Apabila orang Islam telah menegakkan shalat secara sempurna, khusyu`, dan ikhlas dalam pengamalannya, maka shalat tersebut akan memberikan dampak yang positif terhadap suasana batin, kejiwaan, atau psikologisnya yang tentram. Kondisi ini amat mendukung bagi terbentuknya kepribadian (personality) yang utuh, sehat, dinamis, produktif, dan efektif.

Kepribadian yang efektif itu mempunyai ciri-ciri : 1) Komitmen terhadap nilai-nilai agama; 2) Konsisten atau istiqomah dalam kebenaran; 3) Mampu mengendalikan diri (self-control) dari dorongan hawa nafsu; 4) Kreatif, banyak idea atau gagasan dalam menebarkan kebenaran atau kebaikan; 5) Kompeten dalam mengamalkan ajaran agama dan sosialnya.

Sementara itu, manusia sebagai makhluk spiritual (rohani) membutuhkan Allah sebagai pemberi anugerah nikmat. Agar terjalin komunikasi yang interaktif dan mengingat Allah, maka Allah mensyariatkan shalat sebagai medianya. “Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS Thaa-Haa  ayat 14)

 

Dalam shalat terdapat kesempatan berdoa meminta kepada Allah. Di antara bacaan shalat terdapat doa, “Ya Allah! Ampunilah aku, kasihilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku, dan maafkanlah aku.” Semakin sering shalat, maka semakin dikasihi, diangkat derajat, diberi rejeki, diberi petunjuk, disehatkan, dan dimaafkan atas segala kesahalannya. Ini jelas bahwa shalat merupakan amalan terbaik untuk meminta kepada Allah, dan sebagai pengijabah doa, Allah pasti akan mengijabahnya.

 

Adapun doa yang belum diijabah, maka sebaiknya mengoreksi shalat dan amal shaleh lainnya. Pada dasarnya Allah senantiasa siap mengabulkan segala doa hamba-hambaNya, tapi sudahkah hamba-hambaNya itu mau memenuhi segala perintahNya?. Allah Ta`ala berfirman, “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al-Baqarah : 186).

Dalam shalat terdapat gerakan rukuk sebagaimana akhir ayat 43 QS Al-Baqarah, “Ruku`lah beserta orang-oramg yang ruku`”, mengandung arti ketundukan dan penghambaan diri terhadap Allah dan di sisi lain sebagai bentuk syukur untuk nikmat yang tak terukur kepada Rabbun Ghafuur. Secara spiritual thinking, shalat adalah bagian dari hypnoterapi melatih konsentrasi, karena aktivitas jiwa meniti kepada proses perjalanan spiritual yang penuh makna, dilakukan seorang manusia untuk menemui Sang Penciptanya ketika Shalat yang dilakukan itu dengan keadaan khusyu` menjadikannya puncak tujuan rohani, sandaran istirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan dan sumber inspirasi.

Melalui ibadah shalat yang didirikan sesuai dengan tuntunan syariat serta disempurnakan dengan kekhusyu`an dan keikhlasan hati, maka jasmani dan rohani pelakunya akan mendapatkan efek shalat yang terbaik dari Allah Ta`ala, sehingga pelakunya menjadi hamba yang shaleh dan menebarkan kasih sayang untuk alam semesta (rahmatan lil `alamin).

Wallahu a`lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>