Mendiagnosa Penyakit Umat

hasad2

Satu waktu Nabi Muhammad Saw pernah memprediksikan, di akhir zaman kelak musuh-musuh Islam tidak lagi takut kepada umat Islam. Bahkan, mereka mengepung umat Islam seperti orang lapar yang siap melahap makanan.

Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu?” Rasul saw. menjawab, “Jumlah kalian pada saat itu banyak, tetapi kualitas kalian seperti buih di tengah lautan. Allah mencabut rasa takut dari musuh terhadap kalian, dan memasukkan kedalam hati kalian penyakit Wahn”. Berkata seorang sahabat, “Wahai Rasulullah Saw, apa itu Wahn?” Rasul saw. berkata, “Cinta dunia dan takut mati.”

Sabda Nabi Saw sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya dan Imam Abu Daud dalam Sunan-nya, memberikan isyarat kepada kita, penyakit kronis yang diderita umat Islam di akhir zama adalah al-Wahnu; cinta dunia dan takut mati. Betapa banyak umat Islam yang tertipu oleh fatamorgana dunia. Hanyut dalam kesenangan dunia fana hingga takut mati.

Selama ini kita sering menduga, penyakit umat Islam bersumber dari luar Islam berupa makar dan penguasaan yang dilakukan musuh-musuh Islam. Padahal jumlah umat Islam yang bayak pun belum tentu membuat takut para musuh Islam. Mereka justru siap menghantam Islam dengan berani seperti mereka melahap makanan. Tidak sedikit di antara kita pada akhirnya menyibukkan diri untuk melawan musuh dari luar. Justru sehebat apapun makar yang dilakukan musuh Islam, Allah sudah menegaskan, “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (QS. Ali `Imran: 120).

Kualitas kesabaran dan ketakwaan sebagaimana ditegaskan ayat tersebut harus menjadi pondasi bagi umat Islam untuk menuju umat yang berkualitas. Berbagai masalah dan cobaan merupakan ujian yang diberikan Allah untuk melihat kualitas kesabaran umat Islam. Melalui sikap sabar, umat bisa melawan dan menghalau musuh, setidaknya musuh dalam diri sendiri.

Ketakwaan yang di dalamnya terdapat nilai keimanan pun harus menjadi perangkat umat Islam dalam menghadapi musuh. Berbekal ketakwaan yang berkualitas, tipu daya dan makar musuh tidak akan mendatangkan kemudharatan.

Sebagian orang menduga, kebangkitan Islam disebabkan jumlah pemeluknya belum maksimal. Padahal kuantitas pemeluk Islam bukan tolok ukur kemenangan Islam. Nabi Saw dalam hadits di atas menyebutkan, jumlah umat Islam cukup banyak di akhir zaman, tapi keberadaannya bagai buih di tengah lautan. Karena itu pula, kuantitas tidak dapat mendatangkan manfaat bila di dalam banyaknya jumlah itu masih melakukan kemaksiatan dan kezhaliman.

Allah berfirman, “Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS At-Taubah : 25)

Tidak mengapa jumlah sedikit namun bersatu dan terorganisir sehingga mampu mengalahkan kelompok yang banyak. Allah Ta`ala mengingatkan, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah” (QS Al-Baqarah : 249).

Perumpamaan umat Islam di akhir zaman seperti buih di lautan merupakan gambaran perasaan kebanggaan dan kepercayaan diri karena jumlahnya yang banyak. Tapi perlu diingat, buih hampir-hampir tak punya berat dan tak kokoh, bahkan jika terkena hembusan paling ringan dari angin akan menghancurkannya. Ini Menunjukkan, kebanggaan dan perasaan percaya diri tanpa dasar dan pada faktanya, tidak pernah ada, karena hanya menghasilkan kepercayaan diri yang buta. Selain itu, buih di laut tidak dapat menentukan atau mengendalikan dirinya, namun buih tersebut mengikuti aliran air.

Penduduk di negeri ini mayoritas beragama Islam. Kuantitas tersebut cukup menggembirakan. Namun patut disayangkan bila prestasi kuantitas dikotori dengan raport merah berupa perpecahan umat, komersialisasi agama, kriminalitas oleh oknum Islam, kekerasan atas nama agama, dan liberalisasi serta sekulerisasi agama. Fenomena tersebut berujung pada satu sebab sebagaimana disebutkan Nabi Saw pada hadits di atas, yakni penyakit Al-Wahnu; cinta dunia dan takut mati.

Kecintaan terhadap dunia menyebabkan manusia mementingkan pribadi maupun kelompoknya daripada kepentingan umat. Ini mengakibatkan perpecahan di antara umat. Sungguh memperihatinkan, jika demi materi duniawi dan kesenangan sesat, sebagian umat rela bermusuhan dan saling sikut dengan saudara seagama.

Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan terhadap kesenangan dunia, namun itu semua hanyalah fatamorgana dan sesaat. Sedangkan kesenangan yang abadi dari Allah berupa surga. Allah Ta`ala berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS Ali `Imran : 14)

Perpecahan umat yang disebabkan materi ini tidak lepas dari peran musuh yang memanfaatkan kondisi umat Islam dengan cara memasukkan paham-paham materialistik, sekularisme, liberalisme, pluralisme, sosialisme, dan paham-paham lain yang menyesatkan, serta membuat umat lebih mencintai dunia.

Larangan cinta dunia bukan berarti Islam melarang hidup kaya. Nabi Muhammad Saw merupakan pebisnis sukses, namun ia tetap hidup sederhana. Hidup kaya bukan untuk memperkaya diri dengan glamouritas, melainkan untuk membantu menyejahterakan umat dan beramal shaleh. Sejatinya, kaya itu adalah kaya hati. Nabi Saw bersabda, “Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (yang sejati) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

Mencintai dunia tidak jarang akan melupakan mati. Dengan tegas Allah mengingatkan, “Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”(An-Nisaa, 4:77-78).

Penyakit Al-Wahnu seperti ditegaskan Nabi Saw tentu bisa diobati. Di antara penawar itu adalah dengan senantiasa mengingat mati. Nabi Saw bersabda, “Teruslah mengingat mati, karena hal tersebut akan mengesampingkan kesenangan dunia.” (HR Tirmidzi)

Lebih tegas Nabi Saw mengingatkan, “Andai saja kalian mengetahui, apa yang engkau akan lihat saat kematianmu, tentulah kalian tidak akan memakai segigitpun hidangan kesukaanmu, dan pula engkau tidak akan meminum lagi minuman lezat untuk memuaskan rasa dahagamu yang tak terpuaskan”. (HR Imam Ahmad dari Abu Darda)

Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>