Memantapkan Tujuan Hidup

Follow the Leader

Dalam sebuah perjalanan dibutuhkan tujuan yang jelas. Begitupun dengan tujuan hidup manusia. Ia harus mengenali siapa dirinya, berasal dari mana, dan hendak ke mana. Allah sebagai Pencipta alam semesta telah menegaskan, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat ayat 56)

Secara tegas hakikat tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Perwujudan ibadah kepada Allah dengan cara pengabdian kepadaNya dengan penuh ketaatan dan kepatuhan yang didasari keimanan sepenuh hati. Shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji merupakan di antara bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah ayat 5)

Di dunia ini, seorang Muslim pasti mengetahui bahwa ibadah yang benar itu hanya ibadah kepada Allah. Karenanya, dia harus berusaha untuk merealisasikan ibadah tersebut sehingga menjadi hamba Allah yang sebenarnya. Kemuliaan dan keutamaannya ditentukan keberadaannya sebagai hamba Allah yang sebenar-benarnya, dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Di antara tanda kasih sayang dan karunia Allah kepada kita adalah dijadikannya ibadah itu beraneka ragam serta bermacam-macam. Ada yang disebut ibadah hati, yaitu ibadah yang dilaksanakan dengan hati seperti keikhlasan kepada Allah, dan menjalankan semua ibadah ditujukan kepada Allah Ta`ala. Ada juga yang disebut dengan ibadah badan, seperti shalat lima waktu sehari-semalam yang dilaksanakan oleh seorang Muslim.

Selain itu, ada juga yang disebut dengan ibadah harta, seperti zakat yang dikeluarkan dengan penuh keimanan dan keridlaan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata. Ada juga ibadah yang di dalamnya ada menahan hawa nafsu, menghindari perkara-perkara yang disukai sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, hal ini tergambar dalam ibadah puasa. Ada juga ibadah yang harus dengan mengorbankan harta dan raga seperti haji, yang merupakan ibadah yang menggabungkan harta dan raga, serta jihad di jalan Allah yang merupakan ibadah yang paling utama.

Kemudian Allah menambah karunia-Nya kepada kita dengan mensyariatkan ibadah-ibadah sunnah, seperti shalat sunnah, shadaqah, puasa sunnah, haji dan juga umrah. Itu semuanya akan menguatkan iman, mengangkat  derajat, dan menambah kebaikan kita. Milik Allah-lah segala kemulian dan karunia kepada kita.  Kita tidak dapat menghitung  pujian atas-Nya sebagaimana Dia memuji  atas diri-Nya sendiri.

Makan, tidur, maupun bekerja, bukanlah tujuan hidup. Makan hanya cara agar manusia tidak lapar. Tidur merupakan cara agar manusia tidak mengantuk. Begitupun bekerja adalah cara agar bisa bertahan untuk hidup. Adapun tujuan hidup hanyalah mengabdi sepenuh hati kepada Allah Rabbul `Izzati.

Kebahahagiaan hidup dalam pandangan Islam pun tidak berkutat pada sisi materi. Walaupun manusia sering melihat materi sebagai bagian dari unsur kebahagiaan, namun Islam pada dasarnya memandang masalah materi sebagai sarana bukan tujuan. Oleh karenanya, Islam memberikan perhatian sangat besar pada unsur maknawi seperti memiliki budi pekerti yang luhur sebagai cara mendapatkan kebahagiaan hidup.

Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan.(QS An-Nahl ayat 5-6)

Kekeliruan sebagian umat manusia tentang tujuan hidupnya membuat mereka melupakan kehidupan akhirat kelak. Anehnya, kebahagiaan duniawi yang bersifat sesaat diperebutkan, sedangkan kebahagiaan akhirat yang bersifat abadi dilupakan manusia. Pada dasarnya manusia memiliki hasrat berat terhadap kenikmatan dunia, namun itu hanya sesaat. Adapun tempat kembali yang terbaik adalaj surgaNya Allah.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali `Imran ayat 14)

Manusia harus memahami hakikat diperintahkannya ibadah. Dalam QS Al-Baqarah ayat 21 ditegaskan, tujuan disyariatkannya ibadah adalah agar manusia senantiasa bertakwa kepada Allah. Adapun pengertian dari takwa yaitu menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Bahkan orang yang bertakwa akan mendapatkan kemenangan berupa surga. “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan.” (QS An-Naba ayat 31)

Terdapat beberapa hikmah disyariatkannya ibadah kepada manusia. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah Saw pernah bersabda Jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu”. (HR At-Tirmidzi, No. 2516)

Makna “menjaga (batasan-batasan/syariat) Allah” pada hadits tersebut adalah menunaikan hak-hak-Nya dengan selalu beribadah kepadanya, serta menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Adapun makna “kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu“ adalah Allah akan selalu bersama orang yang beribadah dengan selalu memberi pertolongan dan taufik-Nya kepada hamba tersebut.

Beribadah merupakan sebuah kebutuhan hamba kepada Rabb-nya. Dalam peribadahan tersebut manusia berkesempatan untuk berdoa dan bermunajat memanjatkan segala kebutuhannya kepada Allah. Dalam shalat, misalnya, seorang hamba dapat berkomunikasi secara intensif dengan Allah. Sebagai contoh, dalam duduk di antara dua sujud ketika shalat terdapat delapan permintaan kepada Allah. Rabbig firlii (Tuhan, ampunilah aku!), war hamnii (kasihilah aku!), waj burnii (cukupkanlah aku!), war fa`nii (angkatlah derajatku!), war zuqnii (berilah aku rejeki!), wahdinii (tunjukilah aku!), wa `afinii (sehatkanlah aku!), wa`fu `annii (dan maafkanlah aku!).

Penciptaan Allah tidaklah sia-sia, karena setiap penciptaanNya adalah memiliki tujuan. Sedangkan tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah dan kelak akan kembali kepadaNya pula. “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS Al-Mu’minuun ayat 115)

Sebagai analogi; sehebat apa pun perlawanan musuh dalam permainan sepak bola, misalnya, pasti tidak melupakan untuk menjebol gawang lawan. Karena itu, menjebol gawang lawa disebut goal alias tujuan. Begitu pula sehebat apa un ujian maupun cobaan menghadang, jangan melupakan bahwa tujuan hidup kita adalaha Allah melalui sarana ibadah.

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS Al-An`am ayat 162).

Wallahu a`lam bish shawab.

One Response to Memantapkan Tujuan Hidup

  1. Hosting says:

    Bekerja berarti kamu melakukan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan, yang paling tidak sedikit banyak ada kaitannya dengan tujuan hidupmu. Jadi kerjamu bukan hanya semata-mata mencari uang, tetapi memiliki makna yang lebih dalam yaitu mengejar impianmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>