Karakter Pemimpin Ideal

leadership4

Dalam satu kesempatan, Nabi Saw pernah berpesan. “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. Seorang Amir (kepala negara) yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang tugasnya itu. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta benda majikannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban (tentang harta tuannya). Maka (ketahuilah), setiap kalian adalah pemimpin, dan semua akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.”

Pesan yang dikutip dalam Kitab Shahih Al-Bukhari (Nomor Hadits: 5200) tersebut menegaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi sebagai pemimpin, setidaknya menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Bahkan sebelum memimpin kumpulan orang dalam jumlah banyak, seorang pemimpin mesti bisa memimpin dirinya sendiri, yakni mengelola dan mengendalikan diri.

Ada yang menarik dari pesan di atas, yakni saat Nabi Saw menyebut istilah “pemimpin”, beliau menggunakan kata Ra`i (penggembala). Lazimnya seorang penggembala adalah mengurus gembalaannya dengan baik melalui cara memberinya makan, menyejahterakan, menjaga keamanan, dan memberikan rasa nyaman. Bila ia penggembala kambing, maka ia harus menjaga dan mengurusnya dengan baik.

Rupanya Nabi Saw melalui istilah Ra`in yang berarti penggembala tersebut ingin agar para pemimpin menciptakan kesejahteraan untuk rakyatnya yang menjadi tanggungjawab kepemimpinannya itu. Seorang pengembala yang baik selalu berupaya memerhatikan gembalaannya dengan rinci. Ia tahu berapa jumlah gembalaannya, berapa yang sudah dan belum makan, bahkan ia tahu predator atau musuh yang hendak memangsanya. Begitupun dengan para pemimpin, ia mesti memiliki karakter seperti penggembala, bahkan lebih dari sekedar penggembala binatang.

Sejarah membuktikan bahwa hampir setiap para Nabi yang diutus Allah, dipastikan pernah menjadi penggembala, termasuk di antaranya adalah Nabi Muhammad Saw. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman menggembala binatang ternak. Bila seorang penggembala kambing, ia harus memahami kondisi gembalaannya; maka seorang pemimpin pun harus bisa memahami kondisi kejiwaan dan emosional orang-orang yang dipimpinnya.

Pengalaman menggembala hewan ternak menjadikan para nabi mampu bertanggungjawab dalam membina ummat. Bahkan mereka secara ideal menjadi pemimpin yang berkarakter jujur (shiddiq), terpercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan (tabligh).

Kejujuran seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tanggungjawabnya. Jika ia tidak jujur, maka kelak kepemimpinannya akan hancur, karena selalu diselimuti ketidakjujuran. Padahal sejatinya kebohongan (kidzb) merupakan cara untuk menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya. Sepintar apapun seseorang menyembunyikan kebohongan, pasti satu waktu akan terbuka pula kebohongannya. Pemimpin yang jujur selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk rakyatnya.

Nabi Saw pernah mengingatkan agar setiap kita berlaku jujur. Beliau bersabda, Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR Muslim No. 2607)

Imam Ibnu Katsir berkata, “Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar sahabat Nabi tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam. Kejujuran merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapajujur dia akan beruntung.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)

Perilaku jujur mesti didukung dengan perilaku terpercaya (amanah). Bila seorang pemimpin jujur, tentu ia akan menyampaikan apa yang mestinya disampaikan secara amanah. Jabatan merupakan titipan atau amanah yang harus ditunaikan dengan baik saat mengemban jabatan itu. Bila ia seorang memimpin rakyat dalam bentuk negara, maka harus menyampaikan amanah itu kepada rakyatnya. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,” (QS An-Nisa : 58)

Urusan amanah erat kaitanya dengan janggung jawab. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertangggung jawab. John C. Maxwell dalam The 21 Indispensable Quality of Leader menyebutkan bahwa tanggung jawab bukan sekedar melaksanakan tugas, namun pemimpin yang bertanggung jawab harus melaksanakan tugas dengan baik, berorienatsi kepada ketuntasan dan kesempurnaan.

Sebagai pemimpin jangan mengandalkan bawahannya saja tanpa mau ikut serta turun bekerja ke lapangan. Padahal Nabi Muhammad SAW selalu ikut bekerja bersama para sahabat dalam berbagai aktifitas, mulai dari ikut memikul batu saat pembangunan Masjid Quba, hingga turut menggali parit saat perang Khandak. Bahkan ketika umatnya lapar, Nabi pun ikut lapar.

Dr Said Ramadhan Al-Buthiy dalam Fiqh As-Sirah menulis, “Nabi tidaklah memerintah kaum Muslimin untuk menggali parit sedangkan Rasul mengawasi mereka dari istana yang tinggi sambil bersantai. Beliau juga tidak mendatangi kaum Muslimin dalam pesta yang ramai untuk menerima cangkul dari mereka lalu memukulkan cangkul tersebut ke tanah sebagai tanda dimulainya pekerjaan serta sebagai simbol bahwa beliau telah turut bekerja bersama mereka lalu setelah itu cangkul dilemparkan, debu yang melekat di baju dibersihkan kemudian pergi meninggalkan mereka. Namun, Nabi SAW turut bekerja bersama mereka. Baju beliau bersimbah debu. Saat kaum Muslimin letih dan lapar beliaulah orang yang pertama kali keletihan dan kelaparan.”

Seorang pemimpin yang memimpin rakyatnya harus memiliki kecerdasan (fathanah) yang baik sehingga ia mampu memberikan pelayanan terbaik pula. Nabi Muhammad Saw sebagai teladan dalam kepemimpinan sangat cerdas dalam menyusun strategi perang dan politik melawan kaum kafir. Kecerdasan merupakan keunggulan dalam berfikir yang menjadi prasyarat bagi seorang pemimpin. Hal ini pula yang menjadikan Allah memilih Thalut menjadi pemimpin Bani Israil karena kecerdasannya.

Al-Quran mengisahkan secara apik tentang pemilihan Thalut sebagai raja. “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka (sebagian umat Bani Israil) menjawab: ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?’ Nabi (mereka) berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah : 247)

Dengan bekal kecerdasan yang dimiliki seorang pemimpin membuatnya senantiasa komunikatif (tabligh). Saat menghadapi masalah pun, ia berupaya menjalin komunikasi dengan rakyatnya. Ia berusaha mencari win-win solution (solusi jalan keluar). Amanah yang dititipkan rakyat kepada seorang kepala negara, misalnya, harus disampaikan dengan baik.

Seperti halnya Rasulullah Saw, beliau selalu menyampaikan apapun yang diamanahkan Allah. Tentunya yang disampaikan pun harus bernilai kebaikan yang bersumber dari Allah Ta`ala serta berorientasi kepadaNya. Dalam penyampaiannya, amat dianjurkan dengan cara dialogis dan santun, sekalipun terdapat bantahan. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS An-Nahl : 125)

Sejatinya seorang pemimpin ideal adalah pemimpin yang senantiasa memperbaiki diri serta menyelaraskan karakternya dengan karakter teladannya, yakni Nabi Muhammad Saw, sebab beliau teladan yang baik. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik” (QS Al-Ahzab : 21). Maka ketika orang-orang di jaman ini bersyahwat menjadi pemimpin di unit tertentu, maka bercerminlah pada keteladanan beliau. Sudahkah kita meneladani keteladanannya dalam memimpin?

Wallahu a`lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>