Hikmah Shalat: Membentuk Pribadi shaleh spritual, emosional, dan sosial

adzan

Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 3, Allah menyebutkan bahwa di antara kriteria orang yang bertakwa adalah senantiasa mendirikan shalat. Ungkapan senantiasa ini merupakan isyarat dari penggunaan format kata yuqimunash sholaata dengan bentuk fi’il mudhori’ atau kata kerja yang sedang dan akan terus dikerjakan secara berkelanjutan. Karena itu, shalat yang didirikan secara kontinu akan membangun karakter ketakwaan bagi pelakunya.

Secara global, shalat yang didirikan dengan baik, benar, dan memenuhi ketentuan syari’at memiliki 3 hikmah, yaitu: (1) shaleh secara spiritual, (2) shaleh secara emosional, dan (3) shaleh secara sosial.

 

Hikmah pertama: Shaleh secara spiritual

Pertama, kaitannya kepada Allah adalah bahwa shalat sebagai medium ibadah secara ritual-individual antara diri kita kepada Allah sehingga membentuk diri menjadi pribadi shaleh secara spiritual. Karena, pada hakikatnya tugas manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat [51] : 56).

Namun aktifitas ibadah ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban sehingga cenderung terpaksa dan tanpa perenungan. Padahal melalui ibadah shalat ini kita dituntut pula untuk berdzikir; menyebut, mengingat, dan berkomunikasi secara transendental antara hamba dengan Allah, yang mana bentuk responnya adalah melalui ijabah do’a dan harapan oleh Allah.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha [20] : 14)

Perlu dipahami bahwa ibadah itu mesti dilakukan dengan dasar ketulusan dan ketaataan kepada Allah, sehingga tiada lain yang kita harapkan melainkan keridhaan Allah Ta’aa. Syaikh Ahmad Al Hakami dalam kitab A’lamus Sunnah Al-Mansyuroh li-‘tiqodit Thoifah Annajiyah Al Manshuroh halaman 7 memberikan definisi ‘ibadah:

اَلْعِبَادَةُ هِيَ اِسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ الله وَيَرْضَاهُ مِنَ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَة وَالْبَاطِنَة وَالْبَرَاءَة مِمَّا يُنَافِي ذَالِكَ وَيضَاده

“Ibadah adalah sebutan pada setiap perkara yang di cintai dan di ridloi Allah,entah dari ucapan,pekerjaan dhohir maupun batin dan terbebas dari perkara yang bertentangan pada perkara yang dicintai Allah.”

Untuk itu sepatutnya kita menjalani segala bentuk ibadah, terutama shalat, dengan penuh ketulusan sehingga melahirkan keridhaan dan pada ujungnya adalah ketakwaan kepada Allah. Shalat yang seperti ini dikerjakan dengan berusaha memahami setiap bacaan shalat, meresapi setiap gerakan, dan senantiasa menjaga lurusnya hati agar terhindar dari godaan-godaan yang mengganggu kekhusyukan shalat. Menempuh shalat yang khusyuk memang tidak mudah, namun setidaknya dengan menempuh latihan, pembiasan, dan tentunya proses belajar melalui majlis-majlis ilmu insya Allah bisa membantu kita dalam mewujudkan shalat yang khusyuk, sebab, mukmin yang shalatnya khusyuk termasuk mukmin yang beruntung.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, (QS Al Mu’minun [23] ayat 1-2)

Ada dua teknik sederhana untuk menggapai shalat yang khusyuk: pertama, berbicalah apa yang perlu disampaikan dalam shalat dengan bahasa shalat, dan kedua, lupakan yang tidak ada kaitannya dengan shalat atau yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat. Dengan shalat yang khusyuk dipastikan bisa menyambungkan komunikasi hamba dengan Rabbul ‘izzati.

 

Hikmah kedua: Shaleh secara emosional

Hikmah shalat kedua berkaitan dengan diri sendiri. Apabila shalat dikerjakan dengan khusyuk dan hikmah pada poin pertama tadi tercapai, maka pribadi hamba akan menjadi pribadi yang mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Ini sebagaimana Allah tegaskan dalam QS Al ‘Ankabut [29] ayat 45.

إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

 

Kenapa shalat hanya mencegah dari dua perbuatan buruk, keji dan munkar saja? Jawabannya, karena berawal dari dua perbuatan buruk itulah lahir perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Fahsya (disebut dalam 9 ayat) memiliki arti  keburukan yang ditolak oleh nurani (umumnya kepada sesuatu yang kotor). Sedangkan Munkar berarti sesuatu yang diingkari oleh hati. Karena itu berhati-hatilah terhadap shalat yang tidak membuatnya terhindar dari kedua perbuatan tercela itu. Ibnu Mas’ud, juga Al Hasan Bashry dari Ibnu ‘Abbas pernah meriwayatkan,

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan Bashry)

 

Abul ‘Aliyah Ar Riyahi (Tabi’in) pernah berkata,

إِنَّ الصَّلاَةَ فِيْهَا ثَلاَثُ خِصَالٍ فَكُلُّ صَلاَةٍ لاَ يَكُوْنُ فِيْهَا شَيْءٌ مِنْ هَذِهِ الخَلاَل فَلَيْسَتْ بِصَلاَةٍ: الإِخْلاَصُ، وَالْخَشْيَةُ، وَذِكْرُ اللهِ. فَالإِخْلاَصُ يَأْمُرُهُ بِاْلمعْرُوْفِ، وَالخَشْيَةُ تَنْهَاهُ عَنِ المنْكَرِ، وَذِكْرُ القُرْآنِ يَأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ.

“Dalam shalat ada tiga hal di mana jika tiga hal ini tidak ada maka tidak disebut shalat. Tiga hal tersebut adalah ikhlas, rasa takut dan dzikir pada Allah. Ikhlas itulah yang memerintahkan pada yang ma’ruf (kebaikan). Rasa takut itulah yang mencegah dari kemungkaran. Sedangkan dzikir melalui Al Qur’an yang memerintah dan melarang sesuatu.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 65).

Penting diperhatikan juga bahwa shalat menjadi barometer amal shaleh lainnya saat nanti dihisab. Maka semestinya antara praktik shalat dan aktifitas lainnya selaras dalam kebaikan. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR At Tirmidzi, no. 413; An-Nasa’i I : 232-233; Al Baihaqi II : 387)

Singkatnya, poin hikmah kedua ini bahwa shalat yang dikerjakan dengan baik akan membentuk pribadi yang baik, kondisi psikisnya tentram, disiplin waktu, pekertinya luhur, emosinya terkendali, dan tentunya menjadi rahmatan lil’alamiin.

 

Hikmah ketiga: Shaleh secara sosial

Adapun poin hikmah ketiga daripada shalat adalah melahirkan keshalehan secara sosial. Ini tercermin dari praktik mengucapkan salam saat menutup shalat dengan memalingkan wajah ke kanan dan kiri. Meskipun memalingkan wajah saat salam hukumnya sunnah, namun ini menjadi isyarat agar kita menjalin hubungan yang baik terhadap sesama, bahkan dengan menebarkan salam yang mengandung arti kedamaian dan keselamatan untuk sesama. Selain itu, dalam beberapa kesempatan ayat tentang perintah shalat sering disandingkan dengan perintah zakat, seperti pada QS Al Baqarah ayat 43. Untuk itu, wujud dari shalat yang baik pula dibuktikan dengan menjalin hubungan yang baik dengan sesama makhluk hidup, khususnya manusia, terkhususnya lagi adalah sesama umat Islam.

Melalui ibadah shalat yang merupakan ibadah multi-hikmah ini, maka diharapkan kita menjadi hamba-hamba Allah yang beriman nan bertakwa kepada Allah, senantiasa muraqabah atau diawasi oleh Allah, berkepribadian baik, dan memiliki keshalehan secara sosial. Atau tegasnya lagi; shaleh secara ritual-individual, spiritual-emosional, dan shaleh secara sosial. Karakter shaleh yang komprehensif itulah yang merupakan bagian dari karakter muttaqin. Adapun balasan bagi kaum yang bertakwa di antaranya adalah keberkahan dari langit dan bumi. Dan semoga kita mendapatkan kebekahan tersebut wasilah iman dan takwa. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>