Fiqih Qurban

Qurban AF

Praktik ibadah dalam Islam tidak sekedar menyentuh segi pribadi pelaku ibadahnya, namun juga bersentuhan dengan sesama manusia. Islam menghendaki agar umatnya memiliki keshalehan spiritual dan keshalehan sosial. Pada praktiknya Islam mengajarkan beberapa ibadah yang secara khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kepada sesama. Di antara ibadah itu adalah qurban.

Definisi Qurban

Qurban (asal kata: qaraba) bermakna umum; mencakup segala perilaku mendekatkan diri.

اَلْقُرْبَانُ : مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ، سَوَاءُ أَكَانَ مِنَ الذَّبَائِحِ أَمْ مِنْ غَيْرِهَا. وَالْعَلَاقَةُ الْعَامَّةُ بَيْنَ الْأُضْحِيَّةِ وَسَائِرِ الْقَرَابِيْنِ أَنَّهَا كُلَّهَا يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى، فَإِنْ كَانَتْ الْقَرَابِيْنُ مِنَ الذَّبَائِحِ كَانَتْ عَلَاقَةُ الْأُضْحِيَّةِ بِهَا أَشَدَّ ، لِأَنَّهَا يَجْمَعُهَا كَوْنُهَا ذَبَائِحَ يُتَقَرَّبُ بِهَا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ، فَالْقُرْبَانُ أَعَمُّ مِنَ الْأُضْحِيَّةِ.

Qurban yaitu sesuatu yang dijadikan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, baik berupa sembelihan atau yang lainnya. Kaitan antara keduanya secara umum adalah kesemuanya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dan jika qurban berupa sembelihan maka kaitan udhiyyah (QURBAN) dengannya lebih sangat (bisa mendekatkan), karena kaitan tersebut mengumpulkan adanya udhiyyah menjadi sembelihan yang dijadikan untuk mendekatkan diri kepada_Nya (Dengan demikian) Qurban lebih umum dari Udhiyyah. (Kitab al Mausuu’atul Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah juz V halaman 74, maktabah syamilah)

 

Sedangkan yang dimaksud qurban secara praktik disebut udlhiyyah.

الْأُضْحِيَّة) هِيَ مَا يُذْبَحُ مِنْ النَّعَمِ تَقَرُّبًا إلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ يَوْمِ عِيدِ النَّحْرِ إلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ كَمَا سَيَأْتِي. وَهِيَ مَأْخُوذَةٌ مِنْ الضَّحْوَةِ سُمِّيَتْ بِأَوَّلِ زَمَانِ فِعْلِهَا وَهُوَ الضُّحَى.

Udhiyyah yaitu hewan yang disembelih dari binatang ternak yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah mulai dari hari ‘iidin nahri (hari raya nahr/ idul adha) sampai akhir hari tasyriq. Udhiyyah diambil dari kata Dhahwah. Udhiyyah dinamakan dengan awal waktu pelaksanaannya, yaitu waktu Dhuha. (Kitab Fat-hul Wahhab / Hamisy Hasyiyah al-Jamal ‘alaa Syarhil Manhaj juz IV halaman 250, cetakan Daar Ihya at Turaats al ‘Arabi, Beirut / juz 22 halaman 143, maktabah syamilah)

 

 

Sejarah Qurban

 

وَقَدْ شُرِّعَتْ فِي السَّنَةِ الثَّانِيَةِ مِنَ الْهِجْرَةِ كَالزَّكَاةِ وَصَلَاةِ الْعِيْدَيْنِ

Ibadah qurban mulai diyari’atkan pada tahun kedua hijrah, sebagaimana pensyari’atan zakat dan dua ied. (kitab al Fiqhul Islamy wa Adillatuhuu juz IV hal. 244)

 

Pada dasarnya ibadah qurban pernah dipraktikkan sejak masa Nabi Ibrahim AS, bahkan secara substansinya dilaksanakan saat Qabil dan Habil berkompetisi untuk bisa menikahi wanita terbaik. Namun pada praktiknya baru tahun ke-2 Hijriah, Qurban disyariatkan kepada umat Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.

Dalil Disyariatkannya

 

Firman Allah Ta’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

 

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS Al Kautsar : 2)

 

Hadits Nabi SAW:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah, no. 3123)

 

 

Hukum Qurban

 

  • Menurut Madzhab Syafi’i

سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِي حَقِّنَا عَلَى الْكِفَايَةِ إنْ تَعَدَّدَ أَهْلُ الْبَيْتِ فَإِذَا فَعَلَهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنْ الْجَمِيعِ وَإِلَّا فَسُنَّةُ عَيْنٍ
Hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan) untuk kami (umat Islam) dengan sunnah kifayah (jika ada satu yang melakukan, maka yang lain gugur perintah melakukannya) apabila ahli rumah berbilang jumlahnya. Jika tidak berbilang (maksudnya hanya satu orang) maka hukumnya sunnah ‘ain. (Kitab Al-Iqna fii Halli Alfaazhi Abi Syujaa’ juz II halaman 278, cetakan Al Ma’aarif / juz II halaman 588, maktabah syamilah)

 

  • Menurut madzhab Hanafi

الْأُضْحِيَّةُ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ حُرٍّ مُسْلِمٍ مُقِيمٍ مُوسِرٍ فِي يَوْمِ الْأَضْحَى عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ وَلَدِهِ الصِّغَارِ .

Udhiyyah (berqurban) hukumnya wajib bagi setiap orang merdeka (bukan budak), muslim, mukim dan kaya pada hari Adha untuk dirinya dan anak-anaknya yang kecil. (Kitab Fathu Qadiir Libni Humaam juz 22 halaman73, maktabah syamilah)

 

  • Menurut Madzhab Maliki

قَالَ مَالِكٌ : الْأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ وَاجِبَةٌ لَا يَنْبَغِي تَرْكُهَا لِقَادِرٍ عَلَيْهَا مِنْ أَحْرَارِ الْمُسْلِمِينَ إلَّا الْحَاجَّ فَلَيْسَتْ عَلَيْهِمْ أُضْحِيَّةٌ.

Imam Malik berkata: Berqurban hukumnya sunnah yang wajibah (yang kokoh), tidak sepatutnya meninggalkan berqurban bagi orang merdeka yang muslim kecuali orang-orang yang berhaji, bagi mereka tidak diwajibkan (disunnahkan dengan kokoh) melakukan udhiyyah (berqurban). (Kitab Attaaj Wal Ikliil Li Mukhtashari Khaliil juz IV halaman 352, maktabah syamilah)

 

  • Menurut Madzhab Hanbali

وَالْأُضْحِيَّةُ مَشْرُوعَةٌ إِجْمَاعًا …إلى أن قال… وَهِيَ  سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ لِمُسْلِمٍ.

Udhiyyah (berqurban) adalah disyari’atkan menurut ijma. Hukumnya sunnah muakkad bagi orang Islam. (Kitab Kasysyaaful Qinaa’ Lil Buhuuti juz VII halaman 434, maktabah syamilah)

 

 

Syarat dan Ketentuan

 

  1. Syarat binatang yang disembelih
  2. Jenis hewan yang disembelih

 

فَصْلٌ وَلَهَا أَي الْأُضْحِيَّةِ شُرُوطٌ عَبَّرَ عنها الرَّافِعِيُّ كَالْغَزَالِيِّ بِالْأَرْكَانِ الْأَوَّلُ كَوْنُهَا من النَّعَمِ وَهِيَ الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ بِسَائِرِ أَنْوَاعِهَا بِالْإِجْمَاعِ وقال تَعَالَى وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ على ما رَزَقَهُمْ من بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ. ولم يُنْقَلْ عنه صلى اللَّهُ عليه وسلم وَلَا عن أَصْحَابِهِ التَّضْحِيَةُ بِغَيْرِهَا. وَلِأَنَّ التَّضْحِيَةَ عِبَادَةٌ تَتَعَلَّقُ بِالْحَيَوَانِ فَتَخْتَصُّ بِالنَّعَمِ كَالزَّكَاةِ فَلَا يُجْزِئُ غَيْرُ النَّعَمِ من بَقَرِ الْوَحْشِ وَحَمِيرِهِ وَالظِّبَاءِ وَغَيْرِهَا.

“PASAL: Qurban memiliki beberapa syarat yang oleh Imam Rofi’i dan Ghozali diistilahkan dengan beberapa rukun diantaranya : Berkurban harus memakai hewan ternak yakni unta, sapi dan kambing dengan berbagai macam spesiesnya menurut kesepakatan para ulama. Allah Ta’ala berfirman, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka” (QS. 22:34). Tidak dinukil sebuah keteranganpun dari Nabi SAW dan para sahabatnya menyembelih Qurban dengan menggunakan selain hewan tersebut. Dan karena qurban adalah ibadah yang berkaitan dengan binatang, maka hanya tertentu untuk jenis hewan-hewan ternak sebagaimana zakat (hewan yang wajib dizakati juga sebatas binatang ternak / unta, sapi dan kambing) maka tidaklah cukup berqurban dengan selainnya seperti memakai sapi hutan, keledai dan lainnya. (Kitab Asnaa al-Mathaalib I/535)

 

  1. Usia hewan qurban

عَنْ جَابِرٍ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ.

Dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu sembelih hewan untuk berkurban, melainkan Musinnah.  Kecuali jika itu sulit kamu peroleh, sembelihlah Jadza’ah domba (domba yang usianya lebih dari  6 bulan).” (Shahih Muslim, 10/142)

Musinnah atau Tsaniyy adalah setiap hewan yang tanggal gigi serinya. Jamaknya Tsina’ dan Tsunyan. Bentuk lainya Tsaniyyah yang dijamakkan menjadi Tsaniyyat. Tsaniyy dari unta adalah unta yang genap berusia lima tahun, dari sapi yang genap dua tahun dan dari kambing yang genap satu tahun (Mu’jam Lughoti Al-Fuqoha’, vol I, hal. 188)

Rinciannya sebagai berikut:

  • Domba (sheep; Ovis Aries), usia minimalnya adalah 6 bulan Hijriyyah
  • Kambing (goat; Capra hircus), usia minimalnya adalah 1 tahun Hijriyyah
  • Sapi (cow), usia minimalnya adalah 2 tahun Hijriyyah
  • Unta (camel), usia minimalnya adalah 5 tahun Hijriyyah

 

  1. Waktu penyembelihan

و) يدخل (وقت الذبح) للأضحية (من وقت صلاة) العيد) أي عيد النحر. وعبارة الروضة وأصلها «يدخل وقت التضحية إذا طلعت الشمس يوم النحر، ومضى قدر ركعتين وخطبتين خفيفتين». انتهى. ويستمر وقت الذبح (إلى غروب الشمس من آخر أيام التشريق)، وهي الثلاثة المتصلة بعاشر ذي الحجة.
Masuk waktunya menyembelih qurban mulai dari setelah shalat `id. Ungkapan dalam kitab Ar-Raudlah dan asalnya “Masuk waktunya qurban dimulai sejak terbit matahari dan ditambah seukuran 2 raka’at dan 2 khutbah yang ringan”. Berlaku masa menyambelih sampai tenggelam matahari hari tasyriq, yaitu 3 hari yang bersambung dengan tanggal 10 Dzulhijjah. (Kitab Fat-hul Qarib Al Mujib fii Syarh Alfaazh At Taqriib, hal. 147)

 

  1. Boleh berqurban dengan hewan betina

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ فَرْقَ فِي اْلإِجْزَاءِ بَيْنَ اْلأُنْثَى وَالذَّكَرِ إِذَا وُجِدَ السِّنُّ الْمُعْتَبَرُ، نَعَمْ الذَّكَرُ أَفْضَلُ عَلَى الرَّاجِحِ، لأَنَّهُ أَطْيَبُ لَحْماً.
“Ketahuilah, bahwa dalam kebolehan dan keabsahan qurban/aqiqah tidak ada perbedaan antara ternak betina dan ternak jantan apabila umurnya telah mencukupi. Dalam hal ini memang ternak jantan lebih utama dari pada ternak betina karena jantan itu lebih lezat dagingnya”. (Kitab Kifayatul Akhyar juz II, hal. 236)

 

  1. Qurban Sapi atau Unta 7 orang

عن جابرٍ بن عبد الله قال: نحرنا مع رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسَلَّم بالحُديبيةِ البدنةَ عن سبعةٍ والبقرةَ عن سبعةٍ

Dari Jabir bin Abdullah, berkata “Kami berqurban bersama Rasulullah SAW di tahun Hudaibiyah, unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang”. (HR Imam Malik dalam Kitab Al Muwaththa’, Juz I, hal. 321-322)

 

  1. Berqurban (boleh) dengan hewan Kerbau

اتفق العلماء على أن الأضحية لا تصح إلا من نَعم: إبل وبقر (ومنها الجاموس) وغنم (ومنها المعز) بسائر أنواعها، فيشمل الذكروالأنثى، والخصي والفحل.

 

Para Ulama Fiqh sepakat bahwa kurban tidak diperbolehkan kecuali dengan binatang ternak yaitu : Unta, Sapi (termasuk kerbau) dan kambing (termasuk kambing kacang) dengan segala jenisnya mencakup ternak jantan atau betina, yang dikebiri atau menjadi pejantan. (Al-Fiqh al-Islaam IV/259)

 

  1. Hewan yang dianggap cacat

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ شُرَيْحِ بْنِ النُّعْمَانِ الصَّائِدِيِّ وَهُوَ الْهَمْدَانِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَشْرِفَ الْعَيْنَ وَالْأُذُنَ وَأَنْ لَا نُضَحِّيَ بِمُقَابَلَةٍ وَلَا مُدَابَرَةٍ وَلَا شَرْقَاءَ وَلَا خَرْقَاءَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ شُرَيْحِ بْنِ النُّعْمَانِ عَنْ عَلِيٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ وَزَادَ قَالَ الْمُقَابَلَةُ مَا قُطِعَ طَرَفُ أُذُنِهَا وَالْمُدَابَرَةُ مَا قُطِعَ مِنْ جَانِبِ الْأُذُنِ وَالشَّرْقَاءُ الْمَشْقُوقَةُ وَالْخَرْقَاءُ الْمَثْقُوبَةُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ قَالَ أَبُو عِيسَى وَشُرَيْحُ بْنُ النُّعْمَانِ الصَّائِدِيُّ هُوَ كُوفِيٌّ مِنْ أَصْحَابِ عَلِيٍّ وَشُرَيْحُ بْنُ هَانِيءٍ كُوفِيٌّ وَلِوَالِدِهِ صُحْبَةٌ مِنْ أَصْحَابِ عَلِيٍّ وَشُرَيْحُ بْنُ الْحَارِثِ الْكِنْدِيُّ أَبُو أُمَيَّةَ الْقَاضِي قَدْ رَوَى عَنْ عَلِيٍّ وَكُلُّهُمْ مِنْ أَصْحَابِ عَلِيٍّ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ قَوْلُهُ أَنْ نَسْتَشْرِفَ أَيْ أَنْ نَنْظُرَ صَحِيحًا
Telah menceritakan kepada kami [Al hasan bin Ali Al Hulwani] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Syarik bin Abdullah] dari [Abu Ishaq] dari [Syuraih bin An Nu’man Ash Sha`idi dan dia adalah orang? Hamdan] dari [Ali bin Abu Thalib] ia berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memperhatikan baiknya mata dan telinga (hewan kurban). Beliau juga melarang kami untuk berkurban dengan hewan yang cacat telinga bagian depannya, dan tidak pula cacat telinga bagian belakangnya, tidak yang terbelah daun telinganya dan tidak pula yang terdapat lubang bundar pada daun telinganya.” Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin Ali] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Musa] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Isra’il] dari [Abu Ishaq] dari [Syuraih bin Nu’man] dari [Ali] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti hadits tersebut. Ia menambahkan, Ali berkata; “Muqabalah adalah hewan yang terpotong pada sisi ujungnya, Mudabarah hewan yang terpotong pada sisi telinganya, Syarqa’ hewan yang telinganya terbelah; dan Kharqa hewan yang telinganya berlubang.”

Abu Isa berkata, “Hadits ini derajatnya hasan shahih. Syuraih bin An Nu’man Ash Sha`idi berasal dari Kufah, dan termasuk dari sahabat Ali. Syuraih bin Hani juga dari Kufah, bapaknya termasuk sahabat Ali. Syuraih Ibnul Harits Al Kindi Abu Umayyah Al Qadhi telah meriwayatkan dari Ali, mereka semua masih sahabat Ali yang hidup dalam satu masa. Perkataan Ali ‘memperhatikan baiknya’ maksudnya adalah memperhatikan kesehatan hewan kurban.” (HR At Tirmidzi, No. 1418)

 

  1. Prosesi pemotongan hewan qurban

Rukun penyembelihan itu ada 4, yaitu;

  • Dzabhu (pekerjaan menyembelih)
  • Dzabih (orang yang menyembelih)
  • Hewan yang disembelih
  • Alat menyembelih (disunnahkan yang tajam / baik)

 

Proses penyembelihan hewan qurban didahului dengan:

  1. Membaca basmalah
  2. Membaca Shalawat pada Nabi
  3. Menghadap ke arah kiblat (bagi hewan yang disembelih dan orang yang menyembelih)
  4. Membaca takbir 3 kali bersama-sama
  5. Berdoa agar qurbannya diterima oleh Allah, orang yang menyembelih mengucapkan;

اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ، فَتَقَبَّلْ هَذِهِ الْأُضْحِيَّة، نِعْمَةً مِنْكَ عَلَيَّ، وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ، فَتَقَبَّلْهَا.

Allhumma Hadza minka wa ilaika fa taqobbal hadzihil udlhiyyah ni’matan minka ‘alayya wa taqorrobtu biha ilaika fa taqobbalha.. [Hasyiyah Bajuri Juz 2]

 

  1. Pembagian daging qurban. Harus daging, bukan yang lain.

يَجِبُ التَّصَدُّقُ فِي اْلأُضْحِيَةِ الْمُتَطَوَّعِ بِهَا بِمَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اْلاِسْمُ مِنَ اللَّحْمِ، فَلاَ يُجْزِئُ نَحْوُ شَحْمٍ وَكَبِدٍ وَكَرْشٍ وَجِلْدٍ، وَلِلْفَقِيْرِ التَّصَرُّفُ فِي الْمَأْخُوْذِ وَلَوْ بِنَحْوِ بَيْعِ الْمُسْلَمِ لِمِلْكِهِ مَا يُعْطَاهُ، بِخِلاَفِ الْغَنِيِّ فَلَيْسَ لَهُ نَحْوُ الْبَيْعِ بَلْ لَهُ التَّصَرُّفُ فِي الْمَهْدَى لَهُ بِنَحْوِ أَكْلٍ وَتَصَدُّقٍ وَضِيَافَةٍ وَلَوْ لِغَنِيٍّ، لأَنَّ غَايَتَهُ أَنَّهُ كَالْمُضَحِّي نَفْسِهِ.

“Qurban sunat wajib dishadaqahkan berupa daging, tidak cukup jika berupa lemak, hati babat atau kulit ternak. Bagi orang fakir boleh mentasarufkan -untuk apa saja- daging yang diberikan kepadanya walaupun untuk dijual, karena daging itu sudah menjadi miliknya. Berbeda dengan orang kaya, dia tidak boleh menjual daging qurban akan tetapi boleh mamakannya, menyedekahkannya dan menyuguhkannya kepada para tamu, karena pada prinsipnya orang kaya yang menerima bagian daging qurban itu sama dengan orang yang berqurban sendiri”. (Bughyah hal. 258)

 

(وَاْلأَصَحُّ وُجُوبُ تَصَدُّقٍ بِبَعْضِهَا) وَهُوَ مَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ الاِسْمُ مِنْ اللَّحْمِ وَلاَ يَكْفِي عِنْهُ الْجِلْدُ وَيَكْفِي تَمْلِيكُهُ لِمِسْكِينٍ وَاحِدٍ، وَيَكُونُ نِيئًا لاَ مَطْبُوخًا.
“Menurut pendapat yang paling shahih, qurban itu wajib disedekahkan sebagiannya berupa daging, tidak boleh berupa kulitnya. Sudah mencukupi walaupun diberikan kepada seorang miskin, dan yang diberikan itu harus berupa daging mentah tidak dimasak”. (Kitab Qolyubi juz IV, hal. 254)

 

  1. Urutan keutamaan hewan qurban (Unta > Sapi > Kambing)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju Masjid, maka dia seolah berkurban seekor unta. Dan barangiapa datang pada waktu (saat) kedua maka dia seolah berkurban seekor sapi. Dan barangiapa datang pada waktu (saat) ketiga maka dia seolah berkurban seekor kambing yang bertanduk. Dan barangiapa datang pada waktu (saat) keempat maka dia seolah berkurban seekor ayam. Dan barangiapa datang pada waktu (saat) kelima maka dia seolah berkurban sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khuthbah), maka para Malaikat hadir mendengarkan dzikir (khuthbah tersebut).” (Shahih Al Bukhari, 3/396)

  1. Kesunnahan dalam Qurban

Bila qurbannya sunnah, bukan qurban yang nadzar, maka diperbolehkan baginya;

  1. Sunah baginya memakan daging qurban , satu, dua atau tiga suap, karena untuk tabarruk (mencari berkah) dengan udlhiyyahnya.
  2. Diperbolehkan baginya memberi makan (ith’am) pada orang kaya yang Islam.
  3. Wajib baginya menshadaqahkan daging qurban. Yang paling afdhal adalah  menshadaqahkan seluruh daging qurban, kecuali yang ia makan untuk kesunahan.
  4. Apabila orang yang berqurban mengumpulkan antara memakan, shadaqah dan menghadiahkan pada orang lain, maka disunahkan baginya agar tidak memakan di atas sepertiga, dan tidak shadaqah di bawah sepertiganya.
  5. Menshadaqahkan kulit hewan qurban, atau membuatnya menjadi perabot dan dimanfaatkan untuk orang banyak, tidak diperbolehkan baginya untuk menjualnya atau menyewakannya.

 

 

Keutamaan Berqurban

 

Dalam Kitab Hasyiyah Asy Syarqaawi ‘alaa Tuhfatiththullaab juz II, halaman 463, cetakan Daar al Fikr, Beirut, disebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً اَحَبَّ اِلَى اللهِ مِنْ إِرَاقَةِ الدَّمٍ اِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بِقُرُوْنِهَا وَ اَظْلاَفِهَا وَاِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ قَبْلَ اَنْ يَقَعَ مِنَ اْلاَرْضِ فَطِيْبُوْا بِهَا نَفْسًا.

“Tidak beramal anak Adam pada hari Nahr (‘Iedul Adha) yang paling disukai Allah selain daripada mengalirkan darah (menyembelih qurban). Qurban itu akan datang kepada orang-orang yang melakukannya pada hari qiyamat dengan tanduk dan kukunya. Darah qurban itu lebih dahulu jatuh ke suatu tempat yang disediakan Allah sebelum jatuh ke atas tanah. Oleh sebab itu, berqurbanlah dengan senang hati.”
Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya (juz III halaman 26, cetakan ke II tahun 1403 H – 1983 M Daar al Fikr, nomor hadits 1526 / juz IV halaman 83, nomor hadits 1493, Maktabah Syamilah)

 

 

 

 

 

Permasalahan-Permasalahan dalam Qurban

 

  1. Upah pengurusan Daging Qurban

 

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا، وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا، قَالَ: نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

“Diriwayatkan dari `Ali RA, beliau berkata : “Rasulullah SAW memerintahkanku untuk mengurusi hewan Qurban beliau. Aku pun lantas membagikan dagingnya, kulitnya dan pakaiannya. Beliau memerintahkanku untuk tidak memberi upah kepada jagal dari hewan kurban, sedikit pun. Beliau bersabda, ‘Kami akan memberi upah untuk jagal dari harta kami yang selainnya.” (Shahih Muslim, no.1317 )

 

  1. Berqurban untuk orang yang sudah meninggal

(وَلاَ تَضْحِيَةَ عَنِ الْغَيْرِ) الْحَيِّ (بِغَيْرِ إذْنِهِ) وَبِإِذْنِهِ تَقَدَّمَ (وَلاَ عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا) وَبِإِيصَائِهِ تَقَعُ لَهُ. (قوله وَبِإِيصَائِهِ) … إلى أن قال: وَقَالَ الرَّافِعِيُّ:  فَيَنْبَغِي أَنْ يَقَعَ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُوصِ لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنَ الصَّدَقَةِ.

“Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak sah berqurban untuk orang lain yang masih hidup tanpa mendapat izin dari yang bersangkutan, tidak sah juga berqurban untuk mayit, apabila tidak berwasiat untuk diqurbani. Sementara itu Imam Rafi’i berpendapat boleh dan sah berqurban untuk mayit walaupun dia tidak berwasiat, karena ibadah qurban adalah salah satu jenis shadaqah”. (Kitab Qalyubi, Juz IV, hal. 255)

 

  1. Mendistribusikan daging qurban ke luar daerah sendiri
  2. Yang mengharamkan

وَيَحْرُمُ نَقْلُهَا كَالزَّكَاةِ.

“Dan haram hukum memindahkannya (hewan qurban) sebagaimana haram memindahkan zakat.” (Kitab Busyral Karim, juz II, hal. 128)

  1. Yang membolehkan

مَحَلُّ التَّضْحِيَةِ بَلَدُ الْمُضَحِّيْ. وَفِى نَقْلِ الْأُضْحِيَةِ وَجْهَانِ تَخْرِيْجًا مِنَ الزَّكَاةِ، وَالصَّحِيْحُ هُنَا الْجَوَازُ.

“Adapun tempat berqurban adalah daerah orang yang berqurban itu sendiri. Ada dua pendapat mengenai hokum memindahkan qurban itu, sebagaimana adanya perbedaan pendapat ulama tentang hukum memindahkan zakat. Sedangkan menurut pendapat yang shahih dalam masalah ini adalah pendapat ulama yang membolehkan.” (Kitab Kifayatul AKhyar, Juz II, hal. 229)

  1. Yang utama

اَلْأَفْضَلُ اَنْ يُضَحِّيَ فِى دَارِهِ بِمَشْهَدِ اَهْلِهِ، هَكَذَا قَالَهُ اَصْحَابُنَا.

“Lebih utama ia menyembelih hewan qurbannya itu di rumahnya dengan disaksikan oleh keluarganya. Demikianlah telah dikemukakan oleh sahabat-sahabat kami (dari Madzhab Syafi’i). (Kitab Al Majmu` Syarah Al Muhadzdzab, Juz VIII, hal. 425)

 

  1. Mewakilkan pembagian daging qurban

(قَوْلُهُ وَتَفْرِقَةُ الزَّكَاةِ مَثَلاً) أَيْ وَكَذَبْحِ أُضْحِيَةٍ وَعَقِيْقَةٍ وَتَفْرِقَةِ كَفَّارَةٍ وَمَنْذُوْرٍ وَلاَ يَجُوْزُ لَهُ أَخْذُ شَيْءٍ مِنْهَا إِلاَّ إِنْ عَيَّنَ لَهُ الْمُوَكِّلُ قَدْرًا مِنْهَا.

“Penjelasan: Boleh mewakilkan kepada orang lain dalam hal membagi-bagi zakat, demikian pula dalam hal menyembelih qurban dan aqiqah serta membagi-bagi kaffarat dan nadzar. Dan bagi si wakil tidak boleh mengambil bagian sedikit pun dari apa yang dibagikan itu kecuali jika orang yang mewakilkan menyatakan boleh mengambil bagian tertentu dari benda tersebut”. (Kitab Bajuri juz I, hal. 286)

 

  1. Qurban dulu atau aqiqah?

Aqiqah itu hanya anjuran (mustahab). Nabi SAW bersabda,

 

مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافَأَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Barangsiapa diantara kalian ada yang suka berkurban (mengaqiqahi) untuk anaknya, maka silakan melakukan. Untuk satu putra dua kambing dan satu putri satu kambing” (H.R.Ahmad, No. 6530)

 

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Dari Samurah bin Jundub bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak digadaikan dengan Aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberi nama (H.R.Abu Dawud, 8/17; HR Ahmad, No. 19225)

 

Pelaksanaan aqiqah pun terbatas pada beberapa hari setelah melahirkan, bahkan ada yang menyebutkan hingga sebelum usia baligh. Namun tidak ada dalil yang kuat yang menganjurkan aqiqah saat dewasa.

 

Adapun berkurban, maka hukumnya Sunnah Mu-akkad (sunnah yang dikuatkan) berdasarkan Al-Quran (Al Kautsar ayat 2) dan As-Sunnah.

 

Wallahu a`lam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>