Filosofi Umur

received_10207992439602137

Kita ketahui bersama bahwa umur kita itu terbatas. Kita tinggal di dunia ini bagaikan seorang yang asing, atau sebagai seorang yang jadi pengembara.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang pundaknya, lalu berkata,

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Hiduplah kalian di dunia seakan-akan seperti orang asing, atau seperti seorang pengembara.”
Ibnu ‘Umar lantas berkata,

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di petang hari, janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari, janganlah tunggu sampai datang petang. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu. Manfaatkanlah pula waktu hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari, no. 6416)
Dalam istilah bahasa Jawa,  ternyata ada beberapa penyebutan angka yang sangat unik yang mengandung filosofi yang luar biasa. Kali ini filosofi tersebut akan kita kaitkan dengan ajaran Islam.

Bilangan Belasan
Bilang belasan dalam bahasa Jawa tidak disebut dengan sepuluh siji, sepuluh loro, sepuluh telu, dst. Namun diikuti dengan kata welas. Apa maksudnya? Sejak umur sebelas seterusnya, anak-anak sudah diajarkan untuk memiliki sifat belas kasihan. Welas itu berarti welas asih.
Yang diajarkan dalam Islam pun sama,

مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

“Siapa yang tidak menyayangi yang lain, maka tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari, no. 6013)
Lihatlah yang ada pada masa sahabat yang masih anak-anak (alias: pemuda). Sa’id bin Jubair mengatakan,

مَرَّ ابْنُ عُمَرَ بِفِتْيَانٍ مِنْ قُرَيْشٍ قَدْ نَصَبُوا طَيْرًا وَهُمْ يَرْمُونَهُ وَقَدْ جَعَلُوا لِصَاحِبِ الطَّيْرِ كُلَّ خَاطِئَةٍ مِنْ نَبْلِهِمْ فَلَمَّا رَأَوُا ابْنَ عُمَرَ تَفَرَّقُوا فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ مَنْ فَعَلَ هَذَا لَعَنَ اللَّهُ مَنْ فَعَلَ هَذَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ مَنِ اتَّخَذَ شَيْئًا فِيهِ الرُّوحُ غَرَضًا

Ibnu ‘Umar pernah melewati para pemuda. Saat itu mereka sedang menggantungkan burung lantas mereka menjadikan burung tadi sasaran lempar (tembak). Lantas anak panah yang ada akan jadi milik si empunya burung. Ketika Ibnu ‘Umar melihat mereka, mereka lantas berpencar. Ibnu ‘Umar lantas mengatakan, “Siapa saja yang melakukan seperti itu, maka Allah akan melaknatnya. Siapa saja yang melakukan seperti itu, maka Allah akan melaknatnya. Karena ingatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menjadikan hewan bernyawa sebagai sasaran tembak.” (HR. Muslim, no. 1958)

Bilangan Dua Puluh
Dalam bahasa Indonesia angka dua puluhan biasa diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua dan seterusnya, namun dalam bahasa jawa disebut selikur, rolikur dan seterusnya dengan akhiran likur. Menurut beberapa cerita likur memiliki arti “lingguh kursi” di mana pada usia 20-an seseorang mendapatkan kursi berupa kepribadian, pekerjaan, profesi dan yang lainnya.
Karena memang usia 20-an, anak sudah mulai disuruh bekerja dan mandiri. Dalam Islam pun diperintahkan untuk bekerja dan mencari yang halal.
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah no. 2144. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Jadi jangan sampai asal kerja, yang penting cari rezeki, namun tak mengindahkan halal-haram. Juga ada yang bekerja yang penting dapat penghasilan sampai meninggalkan shalat dan meninggalkan puasa.

Bilangan Dua Puluh Lima
Angka dua puluhan dalam bahasa jawa diakhiri dengan kata likur, namun kenapa angka 25 tidak disebut dengan limanglikur? Masyarakat Jawa menyebut 25 dengan sebutan selawe. Ingatlah ketika umur selawe itu masa “seneng-senenge lanang lan wedok”. Pada usia tersebut dalam masyarakat Jawa dianggap sebagai umur ideal untuk sebuah pernikahan.
Namun senang-senangnya lanang lan wedok bukan dengan jalan pacaran, bukan dengan jalan perkenalan bebas tanpa aturan, bahkan sampai berzina. Karena Allah jelas melarang mendekati zina. Mendekatinya saja tidak boleh apalagi sampai berbuat zina. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al-Isra’: 32)
Ingatlah peringatan Allah …

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An Nur: 3)
Bilangan Lima Puluh
Bilangan puluhan dalam bahasa jawa sering menyebunya sepuluh, rongpuluh, telongpuluh, patangpuluh, dan seterusnya. Namun anehnya ketika sampai pada angka 50 orang Jawa tidak menyebutnya dengan limangpuluh. Mereka menyebutnya dengan seket, kenapa? Arti dari seket adalah “seneng kethunan” atau sering memakai peci, topi maupun penutup kepala yang lain, yang artinya menandakan umur sudah tua waktunya untuk banyak beribadah.

Bilangan Enam Puluh
Ketika puluhan biasa disebut dengan sepuluh, rongpuluh, telongpuluh, dst, ada satu bilangan aneh lagi yaitu 60. Masyarakat jawa tidak menyebutnya dengan nempuluh. Namun mereka menyebutnya dengan sewidak. Ternyata arti dari sewidak tersebut adalah “sejatine wis wayahe tindak” atau sesungguhnya sudah saatnya pergi. Menurut masyarakat Jawa jika sudah berumur 60 sudah waktunya untuk banyak beribadah dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan, menikmati hidup yang diberikan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Artinya, umur 50 apalagi 60 tahun harusnya makin dekat pada Allah.

Ingatlah, mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فَإِنَّهُ مَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ فِى ضَيْقِ مِنَ العَيْشِ إِلاَّ وَسَعَهُ عَلَيْهِ وَلاَ فِى سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهُ عَلَيْهِ

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi).
Juga peringatan dari Allah Ta’laa,

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

“Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi arang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (QS. Fathir: 37).

Semoga Allah Ta’ala mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah setelah melalui proses kehidupan di dunia yang penuh kasih sayang, kesungguhan dalam bekerja, rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah, dan ketaatan yang murni kepada Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam bish shawab. 

One Response to Filosofi Umur

  1. Ternyata filosofi Jawa sangat menarik untuk ditelusuri, apalagi kalau kita merenungkan masalah umur dan angka dalam bahasa Jawa. Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur panjang, kesehatan sehingga kita semua bisa berkumpul di tempat yang moga dimuliakan ini di hari kemenangan kita -hari Idul Fithri-, moga-moga kita termasuk insan yang mau memanjatkan rasa syukur kita pada Allah Ta’ala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>