Empat Perkara dalam Empat Perkara

kitab-nashaihul-ibad

Diriwayatkan dari Hamid Al Laffaf RA, ia berkata:

اَرْبَعَةٌ طَلَبْنَاهَا فِي اَرْبَعَةٍ فَأَخْطَأْنَا طُرُقَهَا فَوَجَدْنَاهَا فِي اَرْبَعَةٍ اُخْرَى طَلَبْنَا الْغِنَى فِي الْمَالِ فَوَجَدْنَا فِي الْقَنَاعَةِ، وَطَلَبْنَا الرَّاحَةَ فِي الثَّرْوَةِ فَوَجَدْنَاهَا فِي قِلَّةِ الْمَالِ، وَطَلَبْنَا اللَّذَّاتِ فِي النِّعْمَةِ فَوَجَدْنَاهَا فِي الْبَدَنِ الصَّحِيْحِ، وَطَلَبْنَا الْعِلْمَ فِي بَطْنِ شَبِيْعٍ فَوَجَدْنَاهُ فِي بَطْنِ جَائِـعٍ.

“Empat hal telah aku cari pada empat jalan dan ternyata tidak aku temukan (salah), kemudian aku temukan dalam empat jalan lainnya, yaitu: Aku mencari kekayaan dalam harta, ternyata aku temukan dalam qana’ah. Mencari kesenggangan dalam kemewahan, ternyata aku temukan dalam sedikitnya harta. Aku mencari kelezatan-kelezatan dalam kenikmatan, ternyata aku temukan dalam badan yang sehat. Dan aku mencari ilmu dengan perut yang kenyang, ternyata aku temukan dalam keadaan perut lapar.”

Mengenal Hamid Al Laffaf

Menurut satu riwayat, Hamid Al Laffaf merupakan orang shaleh yang hidup pada masa Bani Umayyah di Damaskus. Ia mendedikasikan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Satu waktu Hamid Al Laffaf merasa bingung saat hendak berangkat shalat Jumat. Ia mendapat kabar kalau keledainya hilang dan tepung untuk persediaan makan mereka ikut menghilang.

“Betapa menyedihkan hidupku ini. Ladangku juga belum sempat aku sirami,” pikir Hamid. “Jika aku pergi shalat Jumat, apakah kejadian buruk akan menimpaku juga?”
“Kenapa kau terlihat bingung?” tanya Istrinya yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya. “Berdiam diri tidak akan menyelesaikan semuanya,” lanjutnya.

“Aku tahu. Kalaupun aku mencarinya sekarang, keledai kita mungkin sudah pergi jauh. Bukankah aku seka¬rang harus menunaikan shalat Jumat?” ucap Hamid.
“Kalau begitu, berangkatlah, Suamiku. Kau pasti lebih tahu yang seharusnya.”
“Ya, dunia ini hanya jalan, sedangkan akhirat adalah tujuan kita. Janganlah hiruk-pikuk di tengahjalan memalingkan kita untuk mencapai tujuan. Aku memutuskan untuk mendahulukan urusan akhirat,” tegas Hamid.

Hamid pun bersiap-siap untuk berangkat shalat Jumat. Kewajiban memang harus didahulukan. Sementa¬ra pekeijaan ditinggalkan, ia bertawakal kepada Allah. Ketika Hamid pulang dari masjid, sebelum sampai ke rumah, ia melewati ladangnya. Hamid sangat heran, ia melihat ternyata ladangnya sudah ada yang menyirami. Kemudian, ia sengaja pergi ke kandang dan keledainya pun sudah ada di sana. Ketika tiba di rumah, Hamid tak sabar bertanya pada istrinya. Rupanya, istrinya tengah membuat adonan tepung untuk membuat kue.

“Kau sudah mendapatkan tepungmu, Istriku. Demikian pula dengan keledaiku. Ia sudah ada di kandangnya dan ladangku sudah ada yang menyirami. Bisakah kau menjelaskan semua peristiwa ini?” tanya Hamid penasaran.
Istrinya menjelaskan, “Tadi aku mendengar suara ringkikan di luar rumah. Ternyata yang meringkik itu suara keledai kita. Ia ketakutan karena di belakangnya ada harimau. Setelah keledai masuk ke dalam rumah bersamaku, harimau itu pergi.

Lalu, aku masukkan ia ke kandang. Mengenai ladang, sebenarnya tadi ladang yang bersebelahan dengan ladang kita sedang disirami oleh pemiliknya. Namun, ia ketiduran dan airnya terus mengalir sampai ke ladang kita. Kalau masalah tepung, ternyata tepung milik kita terbawa pulang oleh tetangga kita yang sama-sama sedang menggiling tepungnya. Tetapi setelah ia sampai di rumah, ia baru sadar bahwa tepung itu bukan miliknya. Oleh karena itu, tadi ia mam¬pir ke sini untuk mengantarkan tepung milik kita.”

Bukan main gembira dan bersyukurnya Hamid mendengar semua penjelasan istrinya. Ia lalu menengadahkan tangan dan berdoa. ‘Ya Allah, hamba telah melaksanakan satu kewajibanku kepada-Mu. Kau kemudian
membahasnya dengan menyelesaikan tiga pekeijaaanku. Demi Allah, hanya kepada-Mu hamba bersyukur.”
“Sebenarnya, kita beribadah itu bukan untuk Allah, melainkan untuk diri kita sendiri. Karena Allah Maha Membalas terhadap hamba-hamba-Nya yang bersyukur. ”

Empat Perkara dalam Empat Perkara

Berdasarkan pengalaman spiritual tersebut, Al Laffaf bertekad mendedikasikan dirinya hanya beribadah kepada Allah. Bahkan ia pun pernah merasa keliru di mana ia mencari empat perkara dalam empat perkara namun salah.

Pertama, Al Laffaf mencari kekayaan pada banyaknya harta, namun ia temukan kekayaan itu dalam sikap qona’ah, yakni sikap menerima anugerah Allah dengan penuh keridhaan, apa pun pemberiannya diterima dengan rela hati. Sikap seperti inilah hakikatnya merupakan sebuah kekayaan, yakni kaya hati di mana hati terasa luas karena mau menerima apa adanya, bahkan dengan seadanya itu ia mau berbagi kepada yang lain.

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى.  قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر . قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب  وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban)

Maka Al Laffaf merasa telah keliru bahwa semula ia menduga kaya itu dengan banyaknya materi, padahal kaya itu hakikatnya dengan luasnya hati dan merasa puas nan ridha terhada segala karunia dari Allah Ta’ala, karena di antara orang yang beruntung adalah orang yang memiliki sikap qana’ah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138).

Kedua, Al Laffaf menduga bahwa ia bakal mendapatkan kesenggangan dalam kemewahan, padahal justru kesenggangan itu ia temukan dalam sedikitnya harta. Sementara orang mengharapkan banyaknya harta dengan tujuan agar leluasa dalam ibadah, padahal dalam pandangan lain, setidaknya harta itu membuat pertanggungjawaban kelak di akhirat bertambah. Lainnya lagi, dengan banyaknya harta –apalagi yang tidak halal– akan menambah beban hidup. Alih-alih leluasa beribadah, pikiran justru akan terfokus pada harta.

Islam tidak melarang ummatnya untuk memiliki kekayaan, toh yang memberikan kekayaan itu adalah Allah Al Ghaniy. Nabi Sulaiman AS selain mendakwahkan Islam pembawa risalah, beliau juga seorang raja yang kaya raya. Nabi Muhammad SAW selain nabi akhir jaman, beliau juga pernah menjadi pengusaha sukses di jamannya dan memiliki pengaruh besar. Demikian juga sahabat-sahabat Nabi, mereka pun tidak sedikit yang dianugerahi kelebihan rejeki. Namun perlu diperhatikan bahwa anugerah rejeki itu merupakan amanah untuk beribadah dan disampaikan lagi kepada yang berhak menerimanya. Harta itu, yang halalnya akan dihisab, yang haramnya akan diadzab. Maka pintarlah dalam mengelola dan memanfaatkan anugerah Allah di jalanNya. Jangan sampai justru dengan banyaknya harta menjadikan kita terlena dan lupa beribadah. Tadinya berharap senggang, realitasnya malah ditunggangi dunia. Na’uu-dzu billahi min dzaa-lik.

Ketiga, Al Laffaf mencari kelezatan-kelezatan dalam kenikmatan, ternyata ia temukan dalam badan yang sehat. Sementara orang menduga bahwa kelezatan bagi nafsu bisa didapat dalam nikmatnya makanan, minuman, atau tempat tinggal, padahal jika badannya tidak sehat, maka ia tidak bisa merasakan kelezatan tersebut. Karena itu, kelezatan hidup bisa diperoleh dari kondisi jasmani dan rohani yang afiah. Sayangnya sebagian kita melupakan nikmat tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ  الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Dalam kesempatan lain ditegaskan bahwa jika seseorang memiliki keafiahan, seakan-akan dunia telah ia miliki. Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141)

Keempat, Al Laffaf menduga bahwa mencari ilmu bisa berhasil dengan perut yang kenyang, namun kenyataannya ia temukan dalam keadaan perut lapar. Secara logika saat lapar kita tidak akan berkonsentrasi untuk belajar maupun menghafal karena perut terganggu, belum diisi makanan. Padahal justru saat lapar syahwat ditekan dan ditundukkan untuk menggapai satu tujuan.

Makan secara normal dan dalam batas yang wajar adalah perkara yang mubah. Yang tidak boleh adalah jika sudah melampaui batas bahkan sampai perut kekenyangan. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,

لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة

“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”.

Bahkan kekenyangan hukumnya bisa haram, Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وما جاء من النهي عنه محمول على الشبع الذي يثقل المعدة ويثبط صاحبه عن القيام للعبادة ويفضي إلى البطر والأشر والنوم والكسل وقد تنتهي كراهته إلى التحريم بحسب ما يترتب عليه من المفسدة

“Larangan kekenyangan dimaksudkan pada kekenyangan yang membuat penuh perut dan membuat orangnya berat untuk melaksanakan ibadah dan membuat angkuh, bernafsu, banyak tidur dan malas. Bisa jadi hukumnya berubah dari makruh menjadi haram sesuai dengan dampak buruk yang ditimbulkan (misalnya membahayakan kesehatan, pent)”.

Sejarah mencatat banyak dari kalangan ulama salafush shaleh yang terukir namanya dengan tinta emas dan menjadi teladan umat jaman kini yang sukses dalam thalabul ilmi dengan cara menahan lapar. Satu di antara ulama itu adalah Sayyiduna ‘Abdurrahman bin Shakhr yang populer dengan sebutan Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu.

Imam Al Bukhari meriwayatkan  dalam sahihnya pada kitab al-‘Ilm, bab hifzhul ilmi, I/190, beliau berkata: “Orang-orang berkata: “Abu Hurairah yang lebih banyak (meriwayatkan hadits), kalau bukan karena dua ayat di dalam kitabullah, niscaya aku tidak akan menyampaikan satu hadits pun. Lalu Abu hurairah RA membaca firman Allah (QS Al-Baqarah Ayat 159-160) kemudian Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya saudara-saudara kami dari kalangan muhajirin sibuk dengan perdagangan mereka di pasar. Sedangkan saudara-saudara kami dari Anshar sibuk mengurusi harta mereka. Sementara Abu Hurairah sendiri sibuk menyertai Rasulullah SAW. Ia mencari makan sebatas perutnya tidak terlalu lapar. Ia hadir di majlis yang tidak mereka hadiri. Ia menghafal apa yang tidak mereka hafal. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari I/192, pada saat menjelaskan hadits ini berkata: “Hadits ini membuktikan bahwa mengambil sedikit dari dunia itu lebih memungkinkan untuk menjaga ilmu.”

Berdasar keterangan riwayat di atas, mencari ilmu bisa hasil di antaranya dengan mengurangi makan dan menyeleksi makanan dengan tujuan berhati-hati dalam memasukkan makanan ke dalam perut. Untuk itulah Al Laffaf merasa bahwa ilmu akan hasil dengan cara demikian.

Semoga Allah Ta’ala meneguhkan keimanan kita dan senantiasa melimpahkan hidayah, taufiq, dan ‘inayahNya kepada kita sehingga kita bisa mengamalkan empat nasehat dari Hamid Al Laffaf Rahimahullah tersebut. Aamiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Salam. Abu Fayyadh (Gus Taqi).

One Response to Empat Perkara dalam Empat Perkara

  1. Dan sebaliknya, apabila ia tidak selamat didalam kuburnya, lebih-lebih dia tidak akan selamat di dalam kehidupan akhirat kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>