Category Archives: Uncategorized

Hussein Abu Hassan

Memahami Bid’ah

Pengertian Bid’ah

Imam An Nawawi berkata :

الْبِدْعَةُ فِي الشَّرْعِ هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَبْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى حَسَنَةٍ وَقَبِيْحَةٍ

“Bid’ah dalam agama adalah memperbarui sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad Saw. Bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah (baik) dan qabihah (jelek).” (kitab Tahdzib al Asma wa al Lughat, I/994)

Pembagian Macam-macam Bid’ah

Ibnu Hajar Al ‘Asqalani meriwayatkan dari Imam Syafii RA, bahwa beliau berkata:

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ أَحَدُهُمَا مَا أُحْدِثَ مِمَّا يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فَهَذِهِ الْبِدْعَةُ الضَّلاَلَةُ. وَالثَّانِي مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ.

“Sesuatu yang diperbarui ada dua macam. Pertama, sesuatu yang baru yang bertentengan dengan al Quran, Hadits, atsar atau ijma’ (kesepakatan ulama). Maka ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua, sesuatu yang tidak bertentangan dengan dalil-dalil agama, maka hal ini tidak tercela.” (Fathul Bari, juz 17, hal. 10) ”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

Foto

Formal2tangkal

doa rohingyabanner1PEDULI

 

S1khaufFormal 1

Ringkasan Matakuliah PAI untuk UAS

Berikut saya lampirkan link ringkasan matakuliah PAI untuk UAS.

Silakan klik DI SINI.

Atau silakan kunjungi link berikut ini

http://www.4shared.com/office/q9zwzoBmce/Ringkasan_UAS_Mata_Kuliah_PAI_.html

Follow the Leader

Memantapkan Tujuan Hidup

Dalam sebuah perjalanan dibutuhkan tujuan yang jelas. Begitupun dengan tujuan hidup manusia. Ia harus mengenali siapa dirinya, berasal dari mana, dan hendak ke mana. Allah sebagai Pencipta alam semesta telah menegaskan, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat ayat 56)

Secara tegas hakikat tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Perwujudan ibadah kepada Allah dengan cara pengabdian kepadaNya dengan penuh ketaatan dan kepatuhan yang didasari keimanan sepenuh hati. Shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji merupakan di antara bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah ayat 5)

memberi

Teladan Rasul Mengentaskan Kemiskinan

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa saya pakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul langsung berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!” Lalu pengemis itu menyerahkannya kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menawarkannya kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasulullah menawarkannya kembali,” adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Angkat tangan

Mengoptimal Efek Shalat

Oleh: Gus Taqi

(Dipublikasikan pada bulletin Qalam Dakwah Edisi XXIII/15 Juni 2012)

Manusia membutuhkan konsumsi rohani berupa ibadah. Ini sebabnya saat Allah memerintahkan ibadah kepada manusia, Al-Quran dalam surat Al-Baqarah ayat 21 menggunakan redaksi An-Naas untuk menyebut istilah manusia sebagai makhluk rohani.

Ibadah yang paling pokok adalah shalat, bahkan amal yang kali pertama dihisab adalah shalat. Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, bahwa Nabi Saw bersabda: “Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat. Bila shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Bila shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.”

Madinah_MasjidNabawi_MakamRosul_GreenDome

Lirik Kisah Rosul (Rohatil Athyaru)

رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi (bi) layaa lil maulidi,
(Burung-burung berkicauan teramat bahagia di malam kelahiran Baginda Nabi SAW)

 وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ
فِى لَيَالِى المَولِدِ

wa bariqunnuri yabdu, min ma’aani Ahmadi
(Dan kilatan cahaya terpancarkan penuh makna-makna dari Ahmad, yakni Baginda Nabi SAW)
Abdullah nama ayahnya Aminah ibundanya
Abdul Muthallib kakeknya Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia Dari Quraisy ternama
Inilah kisah Sang Rasul Yang penuh suka duka
Ooh penuh suka duka …

Dua bulan di kandungan Wafat ayahandanya
Tahun Gajah dilahirkan Yatim dengan kakeknya
Sesuai adat yang ada Disusui Halimah
Enam tahun usianya Wafat ibu tercinta
Inilah kisah Sang Rasul Yang penuh suka duka
Ooh penuh suka duka …

Delapan tahun usia Kakek meninggalkannya
Abu Thalib pun menjaga Paman paling membela
Saat kecil penggembala Dagang saat remaja
Umur dua puluh lima Memperistri Khadijah
Inilah kisah Sang Rasul Yang penuh suka duka
Ooh penuh suka duka …

Di umur ketiga puluh Mempersatukan bangsa
Saat peletakan batu Hajar Aswad mulia
Genap empat puluh tahun Mendapatkan risalah
Ia pun menjadi Rasul Akhir para Anbiya

Inilah kisah Sang Rasul Yang penuh suka duka
Ooh penuh suka duka …

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!