Category Archives: Opini

nahdlatul-ulama

Sanad Ilmu Fiqih Nahdlatul ‘Ulama

Sebagai bagian dari warga Nahdlatul ‘Ulama, selazimnya kita mengetahui jalur keilmuan di bidang fiqih, khsususnya dalam praktik ibadah yang kita amalkan. Secara fiqih, Nahdlatul ‘Ulama mengacu kepada salah satu dari empat madzhab, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Apalagi, kita sebagai pengikut madzhab Al Imam Asy Syafi’i harus mengetahui tentang sanad tersebut. Berikut ini adalah keilmuan yang dimaksud.

Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallam memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.

Hussein Abu Hassan

Memahami Bid’ah

Pengertian Bid’ah

Imam An Nawawi berkata :

الْبِدْعَةُ فِي الشَّرْعِ هِيَ إِحْدَاثُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَبْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إِلَى حَسَنَةٍ وَقَبِيْحَةٍ

“Bid’ah dalam agama adalah memperbarui sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad Saw. Bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah (baik) dan qabihah (jelek).” (kitab Tahdzib al Asma wa al Lughat, I/994)

Pembagian Macam-macam Bid’ah

Ibnu Hajar Al ‘Asqalani meriwayatkan dari Imam Syafii RA, bahwa beliau berkata:

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ أَحَدُهُمَا مَا أُحْدِثَ مِمَّا يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فَهَذِهِ الْبِدْعَةُ الضَّلاَلَةُ. وَالثَّانِي مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هَذَا، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ.

“Sesuatu yang diperbarui ada dua macam. Pertama, sesuatu yang baru yang bertentengan dengan al Quran, Hadits, atsar atau ijma’ (kesepakatan ulama). Maka ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua, sesuatu yang tidak bertentangan dengan dalil-dalil agama, maka hal ini tidak tercela.” (Fathul Bari, juz 17, hal. 10) ”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

leadership4

Karakter Pemimpin Ideal

Dalam satu kesempatan, Nabi Saw pernah berpesan. “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. Seorang Amir (kepala negara) yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin terhadap keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang tugasnya itu. Seorang pembantu adalah pemimpin terhadap harta benda majikannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban (tentang harta tuannya). Maka (ketahuilah), setiap kalian adalah pemimpin, dan semua akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.”