Category Archives: Nashaihul ‘Ibad

kitab-nashaihul-ibad

Empat Perkara dalam Empat Perkara

Diriwayatkan dari Hamid Al Laffaf RA, ia berkata:

اَرْبَعَةٌ طَلَبْنَاهَا فِي اَرْبَعَةٍ فَأَخْطَأْنَا طُرُقَهَا فَوَجَدْنَاهَا فِي اَرْبَعَةٍ اُخْرَى طَلَبْنَا الْغِنَى فِي الْمَالِ فَوَجَدْنَا فِي الْقَنَاعَةِ، وَطَلَبْنَا الرَّاحَةَ فِي الثَّرْوَةِ فَوَجَدْنَاهَا فِي قِلَّةِ الْمَالِ، وَطَلَبْنَا اللَّذَّاتِ فِي النِّعْمَةِ فَوَجَدْنَاهَا فِي الْبَدَنِ الصَّحِيْحِ، وَطَلَبْنَا الْعِلْمَ فِي بَطْنِ شَبِيْعٍ فَوَجَدْنَاهُ فِي بَطْنِ جَائِـعٍ.

“Empat hal telah aku cari pada empat jalan dan ternyata tidak aku temukan (salah), kemudian aku temukan dalam empat jalan lainnya, yaitu: Aku mencari kekayaan dalam harta, ternyata aku temukan dalam qana’ah. Mencari kesenggangan dalam kemewahan, ternyata aku temukan dalam sedikitnya harta. Aku mencari kelezatan-kelezatan dalam kenikmatan, ternyata aku temukan dalam badan yang sehat. Dan aku mencari ilmu dengan perut yang kenyang, ternyata aku temukan dalam keadaan perut lapar.”

kitab-nashaihul-ibad

Lahirnya Fadhilah; Bathinnya Faridhah

Diriwayatkan dalam kitab Syarah Nasha-ihul ‘Ibad karya Asy Syaikh Nawawi Rahimahullah, Sayyidina ‘Utsman berkata:

أَرْبَعَةٌ ظَاهِرُهُنَّ فَضِيْلَةٌ وَبَاطِنُهُنَّ فَرِيْضَةٌ: مُخَالَطَةُ الصَّالِحِيْنَ فَضِيْلَةٌ وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ فَرِيْضَةٌ، وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ فَضِيْلَةٌ وَالْعَمَلُ بِهِ فَرِيْضَةٌ، وَزِيَارَةُ الْقُبُوْرِ فَضِيْلَةٌ وَالْإِسْتِعْدَادُ لَهَا فَرِيْضَةٌ ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ فَضِيْلَةٌ، وَاتِّخَاذُ الْوَصِيَّةِ فَرِيْضَةٌ

“Empat perkara merupakan lahirnya fadhilah (keutamaan) dan batinnya faridhah (kewajiban), yaitu: Bergaul akrab dengan orang-orang shaleh itu merupakan fadhilah dan mengikuti jejak mereka adalah kewajiban, membaca Al Qur’an itu merupakan fadhilah (keutamaan) dan mengamalkan makna yang terkandung di dalamnya adalah kewajiban, ziarah kubur itu merupakan fadhilah (keutamaan) dan mempersiapkan diri untuk menuju ke sana adalah suatu kewajiban, dan menjenguk orang yang sakit itu juga merupakan suatu fadhilah (keutamaan), sedang berwasiat ketika saat sakit itu adalah suatu kewajiban.”

globe-islam

Empat Pilar Agama

Diriwayatkan dari Sayyidina ‘Ali Radliyallahu ‘anhu:

لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ وَ الدُّنْيَا قَائِمَيْنِ مَادَامَتْ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: مَادَامَ اْلأَغْنِيَاءُ لاَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا خُوِّلُوْا وَ مَادَامَ الْعُلَمَاءُ يَعْمَلُوْنَ بِمَا عَلِمُوْا وَ مَادَامَ الْجُهَلاَءُ لاَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَمَّا لَمْ يَعْلَمُوْا وَ مَادَامَ الْفُقَرَاءُ لاَ يَبِيْعُوْنَ آخِرَتَهُمْ بِدٌنْيَاهُمْ

Agama dan dunia senantiasa akan tetap berdiri tegak selama ada empat perkara. Yaitu selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia.

Saat ini kita dihantui oleh bayangan keruntuhan agama dan dunia. Bayangan itu bukan lahir dari khayalan, melainkan dari deretan fakta hidup dan kehidupan yang kini banyak menyimpang dari prinsip-prinsip syariat Allah. Fakta-fakta penyimpangan itu secara benderang bisa kita saksikan di mana-mana. Bahkan di dalam diri kita sendiri. Contoh kecil adalah betapa kita seringkali senang menimbun harta, padahal  di dalam harta itu terdapat hak-hak orang miskin dan fakir yang wajib dipenuhi.